Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

KEUTAMAAN PUASA 6 HARI DIBULAN SYAWWAL

( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

نهاية الزين ص ١٩٧

Keempat adl (puasa sunah enam hari di bulan Syawwal) berdasarkan hadits, ‘brng Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawwal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawwal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawwal luput seiring berakhirnya bulan Syawwal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya,”

kitab: Nihayatuz Zain hal 197

Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu sekalipun tidak berurutan tetap mendapat keutamaan puasa Syawwal seakan puasa wajib setahun penuh.

Bahkan orang yang mengqadha puasa atau menunaikan nadzar puasanya di bulan Syawwal tetap mendapat keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunah Syawwal.

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر

حاشية الباجوري ج ١ ص ٢١٤

Artinya, “Puasa Syawal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan-seperti diingatkan sebagian ulama muta’akhirin-. Tetapi yang jelas-seperti dikatakan sebagian ulama-seseorang mendapat keutamaan sunah puasa Syawwal dengan cara melakukan puasa qadha atau puasa nadzar (di bulan Syawwal)

Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim Juz I, Hal 214

semoga bermanfaat

Penjelasan Puasa Syawal 6 Hari (Referensi Kitab)

Fiqih Puasa Syawal

Penjelasan Puasa Syawal 6 Hari


Diantara puasa-puasa Sunnah adalah adanya puasa di bulan Syawal selama 6 hari, karena Puasa ini sangat dianjurkan dan pahalanya bisa menyamai puasa satu tahun. Puasa 6 hari di bulan Syawal ini dikerjakan selepas mengerjakan Puasa di Bulan Ramadhan.

NIAT PUASA SYAWAL


Niat merupakan salah satu rukun puasa dan ibadah lain pada umumnya. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung pada niat. Saat niat, seseorang di dalam hati mesti menyatakan maksudnya (qashad), dalam hal ini berpuasa. 

Di samping  qashad, seseorang juga menyebutkan status hukum wajib atau sunnah perihal ibadah yang akan dilakukan. Hal ini disebut ta’arrudh. Sedangkan hal lain yang mesti diingat saat niat adalah penyebutan nama ibadahnya (ta’yin). 

Dalam konteks puasa sunnah Syawal, ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin. Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunnah Syawwal’ saat niat di dalam batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin. 

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ (عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى) فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه


Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.   

Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan shalat tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).

Berikut adalah lafal niatnya yang dibaca pada malam hari, 
 
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى   

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ 
 
Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.” 
 
Karena ini puasa sunnah, maka jika lupa niat pada malam hari boleh niat pada siang harinya. Berikut adalah niat puasa Syawwal jika dibaca di siang hari, 
 
  نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta‘âlâ 

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.” 

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG PUASA SYAWAL


Imam Al Bujairimi menjelaskan dalam Hasyiah Al Bujairimi alal Minhaj.

(وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ) لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» وَخَبَرِ النَّسَائِيّ «صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ أَيْ مِنْ شَوَّالٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ» أَيْ كَصِيَامِهَا فَرْضًا وَإِلَّا فَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ بِمَا ذُكِرَ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا (وَاتِّصَالُهَا) بِيَوْمِ الْعِيدِ (أَفْضَلُ) مُبَادَرَةً لِلْعِبَادَةِ

Artinya: "(Dan disunnahken puasa 6 hari di bulan Syawal) karena ada hadits riwayat Imam Muslim: 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian di ikutsertakan (teruskan) 6 hari di bulan Syawal maka seperti puasa setahun penuh).

Dan Hadits riwayat Imam Nasai:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ أَيْ مِنْ شَوَّالٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

Puasa di bulan Ramadhan di samakan / diberi pahala dengan 10 bulan, dan puasa 6 hari di bulan Syawal menyamai / diberi pahala dua bulan, maka puasa itu (Ramadhan dan 6 hari di bulan Syawal) adalah (menyamai) puasa satu tahun.

Atau maksudnya bagaikan puasa pardhu setahun, dan kalo tidak begitu maka tidak ada kehususan (puasa itu) dengan pahala / kesamaan yang sudah disebutkan, karena kebaikan dikalikan 10 kali semisal (sama) dengan kebaikan itu.

Dan menyambungkannya dengan hari Ied (puasa setelah hari Ied) itu adalah lebih utama, karena (termasuk kategori) menyegerakan dalam beribadah.

[البجيرمي، حاشية البجيرمي على شرح المنهج = التجريد لنفع العبيد، ٨٩/٢]

Sumber: Hasyiah Al Bujairimi ala Syarhi Minhaj Hal 89 Juz 2

(و) صوم (ست من شوّال)؛ لأنها مع صوم جميع رمضان "كصيام الدهر" رواه مسلم؛ إذ الحسنة بعشر أمثالها، كما جاء: (أنّ َصيام رمضان بعشرة أشهر، وصيام ستة أيام -أي: من شوال- بشهرين، فذلك صيام السنة) أي: مثل صيامها بلا مضاعفة.

Artinya: (Dan disunnahkan) puasa (6 hari di bulan Syawal) karena puasa 6 hari di bulan Syawal beserta puasa seluruh Ramadhan adalah seperti puasa satu tahun" telah meriwayatkan (akan hadits keutamaan puasa itu) Imam Muslim. Karena satu kebaikan itu dikali 10 kali semisal kebaikan itu, sebagimana hadits yang telah datang:

Sesungguhnya puasa 1 bulan Ramadhan dikali 10 bulan, dan puasa 6 hari di bulan Syawal dikali dua bulan, maka itu semuanya berjumlah puasa satu tahun (12 bulan), maksudnya sebagaimana puasa 12 bulan tanpa di lipat gandakan (lagi)

نظير ما قالوه في (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) [الإخلاص:1]: تعدل ثلث القرآن، والمراد ثواب الفرض، وإلا .. لم يكن لخصوصية ست شوّال معنى.

Serupa masalah yang di katakan oleh para Ulama dalam keutamaan Qul Huwallahu Ahad (Surah Al-Ihklas) mengimbangi / menyamai 1/3 al-Quran. 

Yang dimaksud adalah pahala Puasa Pardhu, dan jika tidak, maka tidak ada kehususan puasa 6 hari di bulan Syawal secara ma'na.

وحاصله: أنَّ من صامها مع رمضان كل سنة .. كان كمن صام الدهر فرضاً بلا مضاعفة.

Dan hasil dari permasalahan, bahwasanya barang siapa yang berpuasa 6 hari di bulan Syawal beserta puasa bulan Ramadhan setiap tahunya, maka bagikan orang yang berpuasa Fardu seumur hidup tanpa di lipat gandakan (lagi)

وقضية إطلاق المتن: ندب صومها حتى لمن أفطر رمضان.

Dan petunjuk keumuman matan kitab (Muqaddimah Hadromiah) disunnahkan puasa (6 hari dibulan Syawal) sampai (bahkan) bagi orang yang batal puasa di bulan Ramadhan.

وقيده (حج) بغير من تعدّى بفطره؛ لأنه يلزمه القضاء فوراً.

Imam Ibnu Hajar memberikan Kayyid (batasan) tidak bagi orang yang batal puasa ramadhan dengan sengaja, karena orang yang batal puasa ramadhan dengan sengaja, wajib baginya qadha dengan segera (tanpa ditunda)

قال (م ر): أي: يحصل له أصل السنة وإن لم يحصل له الثواب المذكور؛ لترتبه في الخبر على صيام رمضان).

Imam Ramli berpendapat: ataupun (maksudnya) Hasil baginya asal (pangkal) kesunnahan, walaupun belum hasil baginya pahala yang disebutkan, karena alasan berurutanya puasa dalam hadits kepada puasa Ramadhan

ثم قال: (وقضيةُ قول المحاملي: يكره لمن عليه قضاء تطوّع بالصوم كراهةُ صومها لمن أفطره بعذر، فينافي ما مرَّ، إلا أن يجمع بأنه ذو وجهين، أو يحمل ذاك على: من لا قضاء عليه كصبي بلغ، وهذا: على من عليه قضاء) اهـ

Kemudian berkata Imam Ramli: dan (petunjuk) kasus pendapat Al mahamili: dimakruhkan bagi orang yang memiliki kewajiban qadha, untuk berpuasa Sunnah, (memasukan) kemakruhan puasanya bagi orang yang batal dengan ada udzur, maka (kasus itu) akan menampikan (menghilangkan) penjelasan yang sudah berlalu, kecuali (tidak menafikan) untuk mengumpulkan  bahwasanya penjelasan itu memiliki dua pandangan, atau ihtimal. Atau tidak menafikan untuk diihtimalkan bagi orang yang tidak memiliki kewajiban qadha seperti anak kecil yang menjadi baligh, dan ini bagi siapa yang memiliki kewajiban Qadha baginya.

وإذا لم يصمها في شوّال .. سنَّ له قضاؤها بعده؛ لتوقيتها.

Dan apabila tidak berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka disunnahkan baginya mengqadha puasa 6 hari, disetelah bulan Syawal, karena terwaktunya puasa 6 hari itu (yaitu di bulan Syawal).

(وسنّ تواليها واتصالها بالعيد)؛ مبادرة بالعبادة، ولما في التأخير من التعريض للفوات، ويحصل أصل السنة بصومها منفصلة عن العيد.

Dan disunnahkan meruntunya dan menyambungnya dengan hari Ied, halnya karena menyegerakan akan ibadah, dan karena sesuatu dalam pengakhiran itu adalah sebagian dari kebahayaan untuk keluputan (hilangnya kesempatan). Dan hasil pangkal kesunahan dengan berpuasa secara terpisah dari hari Ied.

ويظهر أنَّ اتصالها بالعيد أفضل من صومها أيام البيض والسود وإن تأدى بذلك ثلاث سنن؛ لما في ذلك من الخلاف القوي، خصوصاً إذا نوى ست شوّال مع البيض والسود؛ لما مر في الكلام على التعين في النية عن الإسنوي من عدم حصول شيء منها.

Dan jelas bahwa sesungguhnya menyambungkan puasa Syawal dengan Hari Ied (setelahnya) itu lebih Utama (unggul) daripada puasanya Syawal di hari hari putih dan hitam (Hari Senin dan Kamis), walaupun terlaksana dengan cara itu 3 kesunnahan. Karena ada penjelasan akan perbedaan pendapat yang kuat dalam cara itu (menggabungkan dengan hari putih dan hitam), terutama jika diniatkan puasa 6 hari Syawal berserta niat puasa hari Senin dan hari Kamis, karena alasan yang telah berlalu dalam membincangkan akan ta'yin (menentukan) dalam niat dari Imam Al Asnawi, dari tidak adanya hasil satu niatpun dari (penggabungan niat puasa) itu.

[سعيد باعشن ,شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ,page 583-584]

Sumber: Kitab Busyrol Karim Syarah Muqaddimah Al Hadromiyah.

Syekh Khatib al-Syarbini menjelaskan:

وَرَوَى النَّسَائِيُّ خَبَرَ «صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ، فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ» أَيْ كَصِيَامِهَا فَرْضًا، وَإِلَّا فَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ بِرَمَضَانَ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

“Imam al-Nasa’i meriwayatkan hadits; pahala puasa bulan Ramadhan sebanding dengan berpuasa sepuluh bulan, pahala berpuasa enam hari Syawal sebanding dengan berpuasa dua bulan, maka yang demikian itu adalah puasa satu tahun. 

Maksudnya seperti berpuasa wajib selama setahun, sebab jika tidak demikian maka tidak terkhusus dengan Ramadhan dan enam hari Syawal, sebab satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 184).   

Dalam referensi yang lain disebutkan:

قال أصحابنا وهذا صحيح في الحساب؛ لأن الحسنة بعشر أمثالها، وصوم شهر رمضان يقوم مقام ثلاثمائة يوم، وهو عشرة أشهر، فإذا صام ستة أيام بعده قامت مقام ستين يوماً، وذلك شهران، وذلك كله عدد أيام السنة.

Artinya“Para pengikut kami berkata; yang demikian ini benar dalam hitungan matematika. Sebab satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Puasa Ramadhan sebanding dengan berpuasa selama 300 hari (sepuluh bulan). Maka bila seseorang berpuasa enam hari setelahnya, sebanding dengan berpuasa 60 hari (dua bulan). Demikian ini adalah hitungan hari selama setahun” (Syekh al-‘Umrani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i, juz 3, hal. 548).   

Pahala puasa Syawal yang sebanding dengan pahala berpuasa dua bulan maksudnya adalah dua bulan puasa wajib. Sebab, jika tidak dipahami demikian maka tidak ada arti khusus dalam penyebutan puasa Syawal dalam hadits Nabi. Misalnya bila dipahami bahwa enam hari puasa Syawal sebanding dengan dua bulan puasa Sunnah, ini tidak ada yang spesial karena semua pahala kebaikan memang demikian, pahalanya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Dengan demikian, konteks perbandingan pahala tersebut harus dipahami dengan puasa wajib agar berbeda antara puasa Syawal dengan lainnya.   

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

والمراد ثواب الفرض وإلا لم يكن لخصوصية ستة شوال معنى؛ إذ من صام مع رمضان ستة غيرها يحصل له ثواب الدهر لما تقرر فلا تتميز تلك إلا بذلك

Artinya: “Yang dikehendaki adalah pahala puasa fardlu, jika tidak demikian, maka tidak ada makna pengkhususan Syawal dalam hadits Nabi, karena orang yang berpuasa beserta Ramadalan, selama enam hari maka mendapat pahala puasa setahun seperti keterangan yang sudah ditetapkan, maka pahala puasa enam hari Syawal tidak dapat dianggap spesial kecuali dengan penafsiran tersebut (sebanding dengan pahala puasa fardlu dua bulan)”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 456)

Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatut Thalibin mengungkapkan tentang Utama menyegerakan puasa setelah hari raya Ied.

وَمِنْهُ سِتَّةُ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَتَابِعَةً مُتَّصِلَةً بِالْعِيدِ.

Dan sebagian puasa Sunnah adalah puasa 6 hari di bulan Syawal, dan yang paling utama adalah berpuasa secara beruntun bersambung dengan hari Ied (tanggal 2 Syawal)

[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٨٧/٢]

Sumber: Kitab Raudhatut Thalibiin Karya Imam Nawawi Rahimahullah

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Kitab Syarah Sahih Muslim menjelaskan

قال صلى اللَّهُ عليه وسلم من صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا من شَوَّالٍ كان كَصِيَامِ الدَّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي وقوله صلى الله عليه و سلم ( ستا من شوال ) صحيح ولو قال ستة بالهاء جاز أيضا قال أهل اللغة يقال صمنا خمسا وستا)


Artinya: "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).

Dalil ini yang dibuat pijakan kuat madzhab syafi’i, Ahmad Bin Hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedang Abu Hanifah memakruhkan menjalaninya dengan argument agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut….

Para pengikut kalangan Syafi’i menilai yang lebih utama menjalaninya berurutan secara terus-menerus (mulai hari kedua syawal) namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas.

Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain (1 bulan x 10 = 10 bulan) dan 6 hari di bulan syawal menyamai dua bulan lainnya (6 x 10 = 60 = 2 bulan). [ Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56 ].

PUASA SYAWAL Bersamaan QADHA PUASA


Diperbolehkan menggabung niat puasa 6 hari bulan syawal dengan qadha ramadhan menurut Imam Romli dan keduanya mendapatkan pahala. Sedangkan menurut Abu Makhromah tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah.

قال شيخنا كشيخه والذي يتجه أن القصد وجود صوم فيها فهي كالتحية فإن نوى التطوع أيضا حصلا وإلا سقط عنه الطلب

(وقوله كالتحية) أي فإنها تحصل بفرض أو نفل غيرها لأن القصد شغل البقعة بالطاعة وقد وجدت (قوله فإن نوى التطوع أيضا) أي كما أنه نوى الفرض (وقوله حصلا) أي التطوع والفرض أي ثوابهما (قوله وإلا) أي وإن لم ينو التطوع بل نوى الفرض فقط (وقوله سقط عنه الطلب) أي بالتطوع لاندراجه في الفرض


Artinya: “Berkata Guru kami seperti guru beliau : Pendapat yang memiliki wajah penyengajaan dalam niat (dalam masalah ini) adalah adanya puasa didalamnya maka sama seperti shalat tahiyyat masjid bila diniati kesunahan kedua-duanya juga mendapatkan pahala bila tidak diniati maka gugur tuntutannya”.

(Keterangan seperti shalat tahiyyat masjid) artinya shalat tahiyyah bisa berhasil ia dapatkan saat ia menjalani kewajiaban shalat fardhu atau sunah lainnya karena tujuan niat (dalam shalat tahiyyah masjid) adalah terdapatnya aktifitas ibadah di masjid dan ini sudah terjadi.

(Keterangan diniati kesunahan) sama halnya saat ia niati ibadah fardhu

(Keterangan kedua-duanya juga mendapatkan) artinya mendapatkan pahala puasa sunah dan puasa fardhu

(Keterangan bila tidak ia niati) artinya ia tidak niat puasa sunah tapi hanya niat puasa fardhu saja

(Keterangan maka gugur tuntutannya) artinya tuntutan puasa sunnahnya karena telah tercakup dalam puasa fardhu. [ I’aanah at-Thoolibiin II/271 ].

(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً.

Artinya : Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).

(Masalah Kaf) Bila melihat zhahirnya hadits seolah memberi pengertian tidak terjadinya kesunahan 6 hari bulan syawal saat ia niati bersamaan dengan qadha ramadhan namun Ibn Hajar menjelaskan mendapatkan kesunahan dan pahalanya bila ia niati sama seperti puasa-puasa sunah lainnya seperti puasa hari arafah dan asyura bahkan Imam Romli mengunggulkan pendapat terjadinya pahala ibadah-ibadah sunah lainnya yang dilakukan bersamaan ibadah fardhu meskipun tidak ia niati selama tidak terbelokkan arah ibadahnya seperti ia niat puasa qadha ramadhan dibulan syawal dan ia niati sekalian puasa qadha 6 hari dibulan dzil hijjah (maka tidak ia dapati kesunahan puasa syawalnya).

Disunahkan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha karena ia menjalani berbuka puasa dibulan ramadhannya. Abu Makhromah dengan mengikuti pendapat al-Mashudi berkeyakinan tidak dapatnya pahala keduanya bila ia niati keduanya bersamaan seperti saat ia niat shalat dhuhur dan shalat sunah dhuhur bahkan Abu Makhromah menyatakan tidak sahnya puasa 6 hari bulan syawal bagi yang memiliki tanggungan Qadha puasa ramadhan secara muthlak. [ Bughyah al-Mustarsyidiin Hal. 113-114 ].


QADHA PUASA Karena RAGU-RAGU


Diharamkan menjalankan puasa dengan niat QADHA dengan alasan karena ihtiyaath (hati-hati) selama ia yakin atau memiliki sangkaan kuat tidak memiliki tanggungan mengqadha puasa ramadhan dan boleh menjalaninya bila ia ragu-ragu .

فمن تيقن او ظن عدم وجوب قضاء رمضان عليه فيحرم عليه نية القضاء للتلاعب ومن شك فله نية القضاء ان كان عليه والا فالتطوع

Artinya: "Barangsiapa yakin atau memiliki sangkaan kuat tidak memiliki kewajiban mengqadha puasa ramadhan maka haram baginya puasa dengan diniati qadha karena sama halnya dngan mempermainkan ibadah namun barangsiapa ragu-ragu diperbolehkan dengan niat puasa qadha bila memiliki tanggungan qadha dan puasa sunnah bila tidak memiliki tanggungan. [ Ahkaam al-Fuqahaa II/29 ].

وَيُؤْخَذُ من مَسْأَلَةِ الْوُضُوءِ هذه أَنَّهُ لو شَكَّ أَنَّ عليه قَضَاءً مَثَلًا فَنَوَاهُ إنْ كان وَإِلَّا فَتَطَوُّعٌ صَحَّتْ نِيَّتُهُ أَيْضًا وَحَصَلَ له الْقَضَاءُ بِتَقْدِيرِ وُجُودِهِ بَلْ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ عليه وَإِلَّا حَصَلَ له التَّطَوُّعُ

Artinya: "Dapat diambil kesimpulan dari masalah wudhu ini, sesungghnya bila seseorang ragu-ragu atas kewajiban mengqadha baginya kemudian puasa dengan niat mengqadhainya bila ada tanggungan dan niat puasa sunnah bila tidak memiliki tanggungan maka juga sah niatnya dan qadha puasanya juga terjadi bila memang tanggungan tersebut diperkirakan terdapat padanya bahkan andai telah nyata sekalipun baginya namun bila ia tidak memiliki tanggungan, puasanya menjadi puasa sunnah. [ Fataawy al-Fqhiyyah al-Kubraa II/90 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.

Filosofi Ketupat dan Lepet Saat Lebaran


Filosofi Ketupat Lebaran

Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat.
  1. Lebaran.
  2. Luberan.
  3. Leburan.
  4. Laburan.
Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Moga bermanfaat..

Mohon maaf lahir dan bathin moga Alloh swt selalu melimpahkan magfirohNya pada kita semuaa Aamiiiin Ya Allah Ya Rabbal Aalamiin

Bekal puasa Ramadhan - Fawaed Syafi'iyyah



Modul ringkas ini kami susun dalam rangka dauroh “Bekal Ramadhan” yang diadakan oleh Mahad Imam Nawawi (MIAN) yang bertempat di Cisauk, Tanggerang. Modul ini kami susun dalam bentuk bagan dan tabel untuk memudahkan pembaca dalam memahami materi yang dipaparkan.

Di dalam menyusun modul ini kami sengaja memfokuskan pada pendapat-pendapat ulama syafi’iyyah, tanpa menyebut perbedaan pendapat, kecuali di Sebagian permasalahan kontemporer. Hal ini untuk memudahkan pembelajar pemula dalam memahami tashowwur permasalahan fikih.


Daftar Materi dan Kajian Modul Bekal Puasa Ramadhan


Fikih Puasa


  1. Makna Puasa
  2. Hukum Puasa
  3. Sejarah Pensyariatan Puasa
  4. Keutamaan dan Hikmah Puasa
  5. Penentuan Awal Ramadhan
  6. Syarat Wajib dan Sahnya puasa
  7. Sunnah-sunnah Puasa
  8. Pembatalan Puasa

Fikih I'tikaf


  1. Pengertian I'tikaf
  2. Keutamaan I'tikaf
  3. Hukum I'tikaf
  4. Syarat-Syarat I'tikaf
  5. Sunnah-sunnah Itikaf
  6. Keluar Masjid saat I'tikaf
  7. Lailatul Qodar

Fikih Zakat Fithri


  1. Sebab Penamaan
  2. Hukum zakat Fitri
  3. Atas siapa diwajibkan
  4. Jenis makanan pada zakat fitri
  5. Kadar zakat fitri
  6. Waktu zakat fitri
  7. Golongan yang menerima zakat
  8. Niat pada zakat fithri

Semoga Allah memberi manfaat pada modul sederhana ini, dan menjadikannya sebagai kebaikan di akhirat bagi penulis, pembaca, dan setiap pihak yang mendukung terselesaikannya modul ini. Aamiin.




Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Bekal puasa Ramadhan - Fawaed Syafi'iyyah" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Skema Fikih Puasa Lengkap 5 Serial Fikih Ramadhan

Skema Fiqih Puasa

Serial Fikih Ramadhan Halaqoh Fikih Puasa, Hukum-hukum terkait puasa, tarawih, I'tikaf dan zakat dari kitab At-Taqrirat As Sadidah

Berisi kajian-kajian fiqih Puasa dan Fiqih Ramadhan yang dibagi menjadi beberapa seri kajian, sehingga akan membantu mempermudah belajarnya orang yang baru belajar seperti saya agar bisa cepat memahami Fiqih Puasa secara lengkap dan Padat.

Seri ini dibagi menjadi lima bagian seri kajian yaitu.

Seri ke 1
Syarat Wajib Puasa, syarat sah puasa & Rukun Puasa

Seri ke 2
Pembatalan-pembatalan Puasa (bagian 1)

Seri ke 3
Masalah-masalah Kontenporer Seputar Pembatal Puasa

Seri ke 4
Hal-hal yang disunnahkan & Dimakruhkan Saat Berpuasa

Seri ke 5
Mereka Yang Disyariatkan Imsak (menahan) sampai Magrib

Buku ini berbahasa Indonesia yang telah disadur dari kitab-kitab bermadzhab Syafiiyah terutama Kitab At-Taqriro Asy-Syadidah, senuah kitab kontenporer yang bernuansa klasik karena berisikan point-point kitab klasik.

Buku ini berbentuk skema atau diagram Fikih Puasa dan Fikih yang berhubungan dengan Bulan Ramadhan, seperti penjelasan Zakat Fitrah dan juga Asnaf zakat sebagai objek penerima zakat Fitrah.

Sangat cocok untuk bahan presentasi kajian Fikih Puasa dan juga kajian fikih puasa secara Aplikatif dan Produktif bagi para pengkaji yang ingin Instan dan cepat dalam memahami Fikih Puasa.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Skema Fikih Puasa Lengkap 5 Serial Fikih Ramadha" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Syarah Doa Ramadhan | Mama Gentur

Doa Ramadhan Sunda

Buku doa Ramadhan termasuk doa kamilin doa setelah shalat Tarawih, Tasbih setelah Shalat witir, Lafadz Niat Puasa Bulan Ramadhan, Niat Puasa sabulan Ramadhan penuh, Doa Buka Puasa, Lafadz Niat Shalat Tarawih, Lafadz Niat Sholat Witir dua Rokaat, Lafadz Niat Sholat Witir satu Roka'at, panduan Zakat Fitrah

Karya Al-Alim Al-Allamah Mama Gentur Al-Haj Muhammad Qurthubi ibnu Al-Haj Said rahimahumallah

Ari iyeu kitab ngarana "Syarah Dua Romadon" kacida loba faedahna, sakira-kira henteu bisa ngitung didiyeu mah, ngan di cariosken sawareh. Dicariosken kanjeng Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam hiji dinten nuju linggih dina paimbaran linggihna mungkur ka qiblat. Tidinya sumping malaikat Jibril ngadeuheus kanjeng Nabi, saur Malaikat Jibril: Hai Nabi Muhammad kaula anu matak ngadeheus, katitipan salam ku Allah Ta'ala kasampean jeng kaula anu matak ngadeuheus mere pituduh kasampean ku iyeu dua jeung Allah Ta'ala memeh ngadamel dunya lima ratus tahun deui, kaula geus nulisken kana iyeu doa dina tihang Arasy. Kusabab kitu, saha jalma maca doa iyeu dina malam jum'at bulan ramadhan dina awalna Ramadhan atawa dina tengah-tengah na, atawa dina akhirna tangtu eta jalma ku kami anu agung dawuhan Allah Ta'ala di subadanan sakabeh pangabutuhna jeng tangtu eta jalma menang lailatul Qodar kalawan berkah na doa iyeu. Jeng Allah Ta'ala ngadamel di langit tujuh puluh rebu malaikat, hiji-hijina malaikat sirahna duapuluh, cangkemna duapuluh, ari hiji-hijina cangkem letahna dua puluh, eta kabeh letahna maraca tasbih jeung maraca tahlil ganjaranana ker jalma anu maca dua iyeu atawa nulisken atawa mamawa bae

Jeung Allah Ta'ala ngadawuh: saha jalma maca doa iyeu dina malam Jum'at bulan Ramadhan tibeurang atawa tipeuting atawa ngadengekeun bae atawa mamawa bae, tangtu eta jalma ku kami anu agung di subadanan pangabutuhna dunya akhirat. deui dawuhan Allah Ta'ala: Hai nabi Muhammad! sakabeh makhluk hudangna ti pakuburan pada sitaranjang, tapi saha-saha jalma maca doa iyeu seja ngagungkeun bulan Ramadhan tangtu di pakekeun ku malaikat bari mawa pakean ti surga keur anu maca doa iyeu teras di pakekeun ku malaikat, jeung eta malaikat bari marawa wadah mutiara, dina eta wadah papak sagala kadaharan, inum-inuman, jeung eta wadah make di cap ku lafadz "Laa Illaha Illallaah Muhammadur Rasulullah". Malaikat teh geugeroan ku sora anu tarik, pokna: iyeu kabeh kadaharan, inum-inuman ti Allah Ta'ala di piwarang di bikeun ka jalma anu maca doa iyeu dina unggal poe unggal peuting bulan Ramadhan, jeung dawuhan kanjeng nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam: saha-saha ummat kami maca doa iyeu dina bulan ramadhan menang sapuluh balikan, ayat ummat wajib asup ka surga, deui dawuhan kanjang Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam: bawaning ku ngedul ulah henteu kudu maca saumur sakali mah. jeung dawuhan kanjang Nabi Shaollallahu Alaihi wa Sallam: saha-saha jalma maca doa iyeu tangtu asup kasurga moal menang pariksaan heula moal menang hisaban heula tina berkahna doa iyeu, lamun jalma henteu percaya kana iyeu doa tangtu menuang cilaka dunya akhirat



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Syarah Doa Ramadhan | Mama Gentur" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Kitab As-Shiyam | Abdullah Sirajuddin Al-Husaini

Al-Shiyam

Terjemah Al-Shiyam (adabuhu, matholibuhu, fawaiduhu, fadloiluhu) karya Syaikh Abdullah Sirajuddin Al Husaini.

Kitab Ash-Shiyam (adabuhu, matholibuhu, fawaiduhu, fadloiluhu) merupakan salah satu tulisan di antara karya-karya besarnya. Syeikh Abdullah Sirajuddin berkata di dalam bukunya ini, "Buku di hadapan pembaca yang budiman ini adalah buku ringkas yang membahas tentang sebagian dari keutamaan, adab, tuntunan, faedah dan manfaat berpuasa. Buku ini sangat cocok bagi mereka yang ingin mengetahui seluk-beluk tentang ibadah puasa, baik untuk pemula maupun mereka yang sudah paham tentang hal-hal yang terkait dengannya. Di dalam buku ini, dijelaskan beberapa hal yang terkait dengan pembahasan hukum puasa secara ringkas. Buku ini istimewa, karena keterangan yang ada di dalamnya diperkuat dengan dalil-dalil syara’, baik al-Qur’an maupun al-Hadis. Akhirnya, kepada segenap pembaca, penulis berdoa semoga buku ini bermanfaat." Âmîn.

Biografi Abdullah Sirajuddin Al-Husaini



Syeikh Abdullah ibn Muhammad Najib Sirajuddin al-Hussaini ‘alayhimâ rahmatullâhi ta’âlâ merupakan keturunan Imam Hussain bin Ali Abi Thalib radhiyallâhu ta’âlâ ‘anhuma wa ardhahumâ dari pihak ayah. Syeikh Abdullah Sirajuddin lahir di dalam sebuah keluarga yang saleh dan terhormat, di masa ambang keruntuhan Ottoman Kesultanan pada tahun 1923 Masehi. Selama masa kecilnya, Syeikh Abdullah Sirajuddin dikelilingi oleh rasa cinta dan perhatian dari ayahnya, Muhammad Najib Sirajuddin, yang juga merupakan sarjana terkemuka di bidang Tafsir, Fiqih, Hadis, dan Tasawuf. Syeikh Abdullah Sirajuddin dikenal sebagai orang yang senang mengungkapkan banyak rasa hormat, kebaikan, dan cinta terhadap keluarganya. Diketahui juga bahwa beliau sangat giat dalam membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau sangat mencintai ayahnya, dan setelah ayahnya meninggal dunia, beliau selalu memulai tulisannya dengan perhormatan terhadap ayahnya.

Syeikh Abdullah Sirajuddin juga dikenal dengan pengalamannya melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam selama tertidur maupun terjaga. Pada suatu kali Syeikh Abdullah Sirajuddin melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Sayyidina Ali ibn Abi Talib karramallâhu wajhah untuk memakaikan jubahnya kepada Syeikh, dan pada satu waktu yang lain Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendiri yang memakaikannya dengan tangannya yang mulia, dan suatu kali Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Syeikh, “Engkau merupakan ummat kami yang berdedikasi.” Setelah itu Syeikh mengatakan, “Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam senang memiliki saya sebagai ummatnya.” Dan beberapa dari kalangan Ulama, bahkan ada yang mengatakan bahwa ketika Syeikh memulai menuliskan bukunya mengenai Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam (Sayyiduna Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Syamâiluh al-Hamidah – Khishâluh al-Majîdah), seperti seakan-akan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di hadapan Syeikh dan beliau mendeskripsikan sifat mulia dan keindahan fisik dari Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ada seseorang di Saudi Arabia yang mengatakan kepada Syeikh Abdullah Sirajuddin bahwa seorang temannya bertanya-tanya mengenai bagaimana cara untuk belajar lebih banyak mengenai Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, pada suatu malam, ia melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya, dan ia bertanya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, bagaimana cara hamba untuk dapat belajar lebih banyak mengenai diri Engkau?” Maka Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila engkau ingin mengetahui lebih banyak mengenai diriku, maka bacalah buku mengenai Sayyiduna Muhammad Rasulullah yang ditulis oleh Syeikh Abdullah Sirajuddin.” Buku ini dilarang di Saudi Arabia, sehingga ia bertanya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam tercinta, di mana ia dapat menemukannya, karena ia belum pernah mendengarnya. Di dalam mimpinya tersebut, ia mendengar Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pergilah ke Aleppo (Halab), dan engkau akan menemukannya.” Pria ini belum pernah mengenal siapa sebenarnya Syeikh Abdullah Sirajuddin, atau apapun mengenai buku yang ditulis beliau. Ia pergi ke Halab dan menemukan buku tersebut, kemudian ia membacanya dan buku tersebut mengubah hidupnya.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Kitab As-Shiyam | Abdullah Sirajuddin Al-Husaini" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Fiqh Puasa Ramadhan Madzhab Syafi’i

Fiqh Puasa Ramadhan

Untuk beribadah kepada Allāh SWT sangat dibutuhkan ilmu. Jika suatu ibadah dilakukan tanpa ilmu, maka akan banyak menimbulkan dampak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. 
Allāh SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36)

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan atas setiap mukallaf, dan amalan ini berulang setiap setahun sekali. Oleh karena itu, betapa urgennya mengetahui fiqih puasa, karena hal ini menentukan diterima atau tidaknya ibadah seorang hamba di hadapan Allāh SWT.

Risalah ini merupakan sebuah ringkasan yang disadur dari kitab alMu’tamad karya Syaikh Dr. Muhammad az-Zuhaili, Taqrīrātus Sadīdah karya alHabib Hasan al-Kaff dan dengan catatan tambahan yang diperlukan.

Ketentuan Puasa dalam Mazhab Syafii


Dalam kitab Ghayah at-Taqrib disebutkan bahwa syarat wajib puasa ada empat yaitu Islam, baligh, berakal sehat, dan mampu berpuasa. Adapun rukun antara lain niat, menahan diri dari makan dan minum, jimak (hubungan intim), sengaja muntah. Tiga hal yang disunnahkan dalam puasa yaitu menyegerakan berbuka, mengakhirkan makan sahur, dan meninggalkan perkaatan buruk.

Para sepuh yang tidak kuat berpuasa, boleh berbuka dan wajib baginya memberi makan kepada orang miskin untuk setiap meninggalkan puasa satu mud. Sementara perempuan hamil dan perempuan yang menyusui jika mereka merasa khawatir akan dirinya sendiri, boleh berbuka dan diwajibkan bagi keduanya untuk mengqadha.

Pandangan Mazhab Syafii tentang qadha puasa bagi perempuan hamil dan menyusui ini berbeda dengan Fatwa Tarjih. Dalam ketentuan Tarjih, perempuan hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa asalkan membayar fidyah. Namun dirinya menegaskan bahwa secara umum ketentuan Mazhab Syafii dan Majelis Tarjih banyak persamaan seperti disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur, menyegerakan berbuka, dan meninggalkan perkaatan buruk.

Mohon maaf jika terdapat sebuah kesalahan, serta diharapkan masukan dan sarannya agar penulis senantiasa introspeksi diri. Kesempurnaan hanyalah milik Allāh SWT, adapun penulis hanya hamba yang lemah lagi berlumur dosa. Nas’alullāha Al-‘Āfiyah.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Fiqh Puasa Ramadhan Madzhab Syafi’i" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Panduan Ibadah Puasa | Terjemah At-Taqrirotus Sadidah

Panduan Ibadah Puasa

Kitab fiqih yang berjudul al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah adalah sebuah kitab fikih kontemporer bermadzhab Syafi'iyah yang menjelaskan beberapa masalah fikih karya Sayyid Hasan bin Muhammad al-Kaff. Kitab ini juga membahas tentang puasa,wajib, sunnah, dan makruh.

Buku terjemahan ini membahas tentang puasa sampai habis yang ambil dari kitab Taqrirat sadiidah karangan Al Habib Ahmad bin Hasan Al Kaf Hafidzahullah murid daripada Al Habib Zein bin Smith Hafidzahullah wa ra'aah, isi kandungan buku ini adalah

DAFTAR ISI

  1. Pengertian Puasa
  2. Asal nama bulan “Ramadhan”
  3. Keutamaan Puasa
  4. Hukum-hukum puasa
  5. Syarat sah puasa
  6. Syarat Wajib puasa
  7. Rukun-rukun Puasa
  8. Wajibnya puasa ramadhan sebab lima perkara
  9. Sunnah-sunnah puasa
  10. Hal-hal yang Makruh Dilakukan Ketika Puasa

Pengertian Puasa


Puasa menurut Bahasa Arab maknanya adalah diam, dan menurut syari'at adalah menahan segala sesuatu yang membatalkan ibadah. Yang dinamakan puasa mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.

Dalil akan kewajiban puasa adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183 "Wahai orangorang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana yang telah kami wajibkan kepada kaum sebelum kalian semoga kalian termasuk orang yang bertaqwa",

diwajibkannya puasa itu pada tahun kedua hijriyah di bulan Sya'ban. Diriwayatkan Rasulullah SAW berpuasa selama 9 kali, 8 kurang dari 30 hari dan hanya sekali beliau sempurna 30 hari.

Asal Nama Bulan Ramadhan


Dinamakan Ramadhan sebab ketika penamaan bulan dilakukan bertepatan pada waktu itu suhu di daerah arab sangat panas maka dinamakanlah bulan tersebut bulan Ramadhan yang asal katanya adalah Ramdha' yang bermakna sangat panas, namun ada yang mengatakan dinamakan bulan itu ramadhan sebab dosa-orang mukmin di bulan tersebut dihapus.

Keutamaan Puasa


Di dalam Al Qur'an disebutkan

"Makan dan minumlah kalian (Di surga) dengan tenang sebab apa yang telah kalian lakukan di hari-hari yang telah lalu" (Al Haqqah 24), "Dan mereka para lelaki dan perempuan yang berpuasa dan para lelaki dan perempuan yang menjaga kemaluan mereka, dan para lelaki dan perempuan yang banyak berdzikir (mengingat Allah),

Allah siapkan bagi mereka Ampunan dan pahala yang besar" (Al Ahzab 35). Di dalam hadits juga disebutkan Allah berfirman di dalam hadits qudsinya "Kebaikan seseorang Aku balas dengan sepuluh kebaikan sampai 700 kebaikan, adapun puasa Aku sendiri yang akan membalasnya (Karena hanya Allah yang tahu kadar puasa seseorang)" (HR Bukhari) .

Rasulullah SAW bersabda : "Diamnya orang yang berpuasa itu tasbih, tidurnyapun ibadah, doanyapun mustajab, dan amalnya berlipat ganda pahalanya" (HR Daylamiy).



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Panduan Ibadah Puasa | Terjemah At-Taqrirotus Sadidah" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Maqosidu Siyam | Syekh Izuddin bin Abdu Salam

Terjemah Maqasidu Shiyam

Maqosidu Siyam adalah buku yang menjelaskan tentang  Fiqih Ibadah puasa karya Syaikh Izuddin bin Abdu Salam berlandaskan Fiqih mAdzhab Syafiiyah.

Riwayat Singkat Syekh Izuddin bin Abdu Salam


Nama lengkapnya adalah al-‘Allamah alSyaikh al-Imam al-Faqih al-Mujtahid Hujjatul Islam, Syaikhul Islam Izzuddin Abu Muhammad Abdul Aziz ibn Abdussalam ibn Abu alQasim ibn Hasan al-Sulami al-Dimasyqi al-Syafi‘i. Ia lahir pada 577 Hijriah Beliau belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Ahmad al-Mawwazini, Barakat ibn Ibrahim al-Khusyu‘i, al-Qasim ibn Asakir, Umar ibn Thabrazid, Hanbal ibn Abdullah, dan beberapa guru yang lain.

Beliau juga menjadi guru bagi banyak murid yang sebagiannya kemudian dikenal sebagai ulama yang cukup masyhur, seperti alDimyathi, Ibn Daqiq al-‘Id, Syihabuddin ibn Farh, al-Yunaini, Ibn Bahram al-Halabi, dan lain-lain.

Beliau memiliki riwayat panjang dalam tradisi ilmu dan ijtihad. Juga dikenal istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran dan jihad. Dikenal luas pada zamannya sebagai salah satu ulama besar mazhab Syafi‘i. Juga dikenal teguh memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Selain itu, dikenal pula sebagai alim yang warak dan pemberani.

Al-Asnawi mengatakan, “Syekh Izzuddin ibn Abdussalam adalah syekh Islam yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ia menganggap rendah kekuasaan dunia dan para penghamba dunia. Ia juga bersikap tegas kepada para raja dan bangsawan pada zamannya.”

Karya-karya Syekh Izuddin bin Abdu Salam


Berikut ini beberapa karya tulisnya yang lain:

  1. Tafsîr al-Qur’ân—ringkasan atas al-Nukat wa al-‘Uyûn karya al-Mawardi
  2. Al-Jam‘ bayna al-Hâwi wa al-Nihâyah
  3. Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm.
  4. Al-Qawâ‘id al-Shugrâ
  5. Bidâyah al-Sûl fî Tafdhîl al-Rasûl
  6. Al-Alghâz fî al-Nahw
  7. Amâlî al-‘Izz
  8. Al-farq bayna al-Islâm wa al-Imân
  9. Ahkâm al-Jihâd wa Fadhlih
  10. Al-Isyârah ilâ al-Îjâz fî Ba‘dhi Anwâ‘ alMajâz
  11. Al-Anwâ‘
  12. Bayânu Ahwâl al-Nâs Yawm al-Qiyâmah
  13. Targhîb Ahl al-Islâm fî Suknâ al-Syâm
  14. Syarh Asmâ’ Allâh al-Husnâ
  15. Al-Targhîb fî Shalât al-Raghâ’ib
  16. Al-Radd ‘alâ al-Mubtadi‘ah wa al-Hasyawiyyah
  17. Risâlah fî ‘Ilm al-Tawhîd
  18. Risâlah fî al-Quthb wa al-Ghawts wa alAbdal wa Ghayruhum
  19. Syarh Hadîts lâ Dharara wa lâ Dhirâra
  20. Syarh Muntahâ al-Sûl wa al-Amal fî ‘Ilm al-Jadal wa al-Ushul
  21. Milhah al-I‘tiqâd
  22. Al-Fatâwa al-Majmû‘ah
  23. Al-Fatâwa al-Mishriyyah
  24. Al-Fatâwa al-Maushiliyyah
  25. Fawâ’id al-Balwâ wa al-Mihan
  26. Al-Fawâ’id fî Ikhtishâr al-Maqâshid
  27. Qashîdah min 33 Bait min Bahr al-Wâfir fî Madh al-Ka‘bah
  28. Mukhtashar Shahîh Muslim
  29. Majlis fî Dzamm al-Hasyîsyah
  30. Mukhtashar Majâz al-Qur’ân
  31. Maqâshid al-Ri‘âyah
  32. Maqâshid al-Shalâh
  33. Maqâshid al-Shiyâm
  34. Manâsik al-Hajj
  35. Nubdzah Mufîdah fî Adâb al-Shuhbah
  36. Washiyyah al-‘Izz Qabla Mawtihî

Itulah beberapa kitab yang ditulis al-‘Izz.

Disebutkan bahwa pemuka para ulama ini meninggal sebagai zahid pada 660 H. Sebagian riwayat lain menyebut 659 H di kota alMahrusah. Jenazahnya dikuburkan di lembah gunung al-Muqaththam. Di tempat itu ada pemakaman yang penjaganya tidak mengizinkan siapa pun dikuburkan di sana kecuali dengan kuburan yang sederhana, tanpa dinding, tanpa hiasan, dan bentuk kemegahan lainnya. Dengan begitu, sang zahid ini tetap menjadi zahid hingga akhir hayatnya dan di kehidupan berikutnya. Semoga beliau mendapatkan surga firdaus, kenikmatan yang paling nikmat, dan taman surga yang paling luas.

Ketika saya menziarahi kuburannya sebelum menyunting bukunya ini, sungguh tubuh ini berguncang dan hati ini bergetar hebat mengingat kemuliaan, keluasan ilmu, dan kesederhanaan sang zahid ini.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Maqosidu Siyam | Syekh Izuddin bin Abdu Salam" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

60 Hadits Pilihan Seputar Puasa, Shalat Tarawih, Itikaf

60 Hadits Puasa

Salah satu syarat utama diterimanya ibadah seorang hamba adalah mutaba'ah yang berarti mengikuti tuntunan dan petunjuk Rasulullah SAW dalam beribadah. Tuntunan dan petunjuk Rasulullah SAW tidak bisa diketahui kecuali dengan cara mempelajari hadits-haditsnya. Oleh sebab itu, membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi SAW merupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan.

Buku ini menyajikan kepada pembaca sekalian hadits-hadits yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, meliputi; hadits-hadits tentang metode penetapan awal bulan Ramadhan, keutamaan bulan Ramadhan, keutamaan puasa dan macam-macamnya serta hukum-hukum yang berkaitan dengannya.

Setiap haditsnya saya sertakan dengan faidah-faidah yang terkadang di dalamnya supaya lebih memudahkan pembaca dalam memahami maksud dan kandunganya.

Hadits-hadits yang terangkum dalam buku ini tergolong pendek, mudah dihafal, populer dan sarat dengan makna. Penyusun hanya mencantumkan hadits-hadits yang shahih-sahih saja yang umumnya diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

Semoga Allah memberikan keberkahan dan pengabulan pada buku ini serta menjadikannya bermanfaat terutama bagi penyusun dan siapa saja yang mau membacanya. Mudah-mudahan jerih payah yang sangat sederhana ini Allah catat dan nilai sebagai amal shalih bagi penyusun dan bagi siapa saja yang ikut andil di dalamnya.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "60 Hadits Pilihan Seputar Puasa, Shalat Tarawih,  Itikaf" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali

Asroru Shaum

Imam Muhammad al-Ghazali, seorang Ulama yang menguasai berbagai macam bidang disiplin Ilmu, memberikan gagasan tentang rahasia puasa. Sebagai seorang ahli fiqh sekaligus ahli tasawuf, Imam Ghazali tidak melulu memandang puasa sebagai ibadah badaniyah. Oleh karena itu, gagasannya tentang rahasia puasa pun menyadarkan kita akan pentingnya menunaikan ibadah puasa secara lahir batin. Berikut ini enam rahasia puasa menurut Imam al Ghazali :

  1. Menundukkan mata dan mencegahnya dari memperluas pandangan ke semua yang dimakruhkan, dan dari apapun yang melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
  2. Menjaga lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
  3. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dimakruhkan. Karena semua yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara mendengar dan memakan perkara haram,“sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis suht”.
  4. Mencegah bagian tubuh yang lain seperti tangan dan kaki dari tindakan-tindakan dosa, juga mencegah perut dari makan barang syubhat ketika berbuka. Mana mungkin bermakna, orang berpuasa dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung tetapi menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah orang yang berbuka dengan haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
  5. Tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang ketika waktu siang, yaitu makan. Bahkan, justru ketika Ramadhan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadhan malah tersedia saat Ramadhan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
  6. Supaya hati setelah berbuka bergoncang antara khouf (takut) dan roja’ (mengharap). Karena, ia tidak tahu apakah puasanya diterima dan ia menjadi orang yang dekat dengan Allah, ataukah puasanya ditolak dan ia menjadi orang yang dibenci. Dan seperti itulah adanya di seluruh ibadah ketika selesai dilaksanakan.

Rahasia-rahasia yang dipaparkan oleh Imam Ghazali ini bisa kita perhatikan baik-baik, di mana puasa bukan hanya tentang perut. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Puasa tidak hanya dipandang secara syariat antara sah dan batal. Karena yang puasanya sah hingga tebenam matahari belum tentu diterima oleh Allah. Melainkan puasa yang menyeluruh dari raga hingga jiwa. Wallahu a’lam bis shawab.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali

Rahasia Puasa & Zakat

Terjemah Asroru Shiyam wa Zakat | Imam al-Ghazali


Deskripsi:
 
“Betapa banyak orang-orang berpuasa, namun tak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali dahaga dan lapar.” (Hadis Rasulullah Saw.)

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan bagian zakatnya), beri tahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih. (QS Al-Taubah: 34)

Hadis dan ayat di atas cukup menunjukkan bagi kita betapa pentingnya perintah puasa dan zakat, sekaligus menyiratkan pentingnya memahami keduanya. Tanpa pemahaman yang benar, dikhawatirkan amal ibadah kita menjadi sia-sia.

Banyak buku telah membahas tentang puasa dan zakat, baik dari segi hukum maupun hikmahnya. Buku ini menjadi istimewa karena penulisnya, Al-Ghazali, seorang faqih sekaligus sufi termasyhur, membahasnya dari sudut pandang lahir maupun batin. Tak hanya menguraikan rukun-rukun, sunnah-sunnah, syarat-syarat puasa dan zakat, buku ini membahas pula makna dan nilai batiniah serta niat dan perilaku yang harus menyertai, agar kedua ibadah itu sempurna.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Kitab Fiqhus Shiyam karya Syeikh Hasan Hitou

Terjemah Fiqhus Shiyam

Buku yang ada dihadapan pembaca ini adalah buku yang menjadi penyambung lidah dari kitab “Fiqh Shiyam” yang ditulis oleh Guru Besar, seorang faqih dan ushuli sejati Shaikh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, beliau Sosok ulama dalam arti yang sesungguhnya, bergelimang dengan karya tulis ilmiyah, muridnya tersebar dimana-mana, menjadi ketua Halal Control di Jerman, menjadi guru besar di Universitas Kuwait dan mendirikan Universitas Al-Imam Asy-syafi’i di Cianjur Jawa Barat.

Dalam buku ini beliau menyampaikan kajian tentang puasa secara khusus, mulai dari sejarah puasa, hukum puasa, tsubut Ramadhan (ketetapan kapan Ramadhan dimulai), syarat sah puasa dan yang membatalkannya, yang diharamkan dan yang disunatkan dalam puasa, perbedaan para ulama tentang beberapa perkara, argumen dan sanggahannya, dan lain-lain.

Buku ini selain berbicara tentang aspek hukum dalam ibadah puasa, juga berbincang tentang beberapa kebiasaan masyarakat dalam mengamalkan puasa dengan pembahasan yang kritis. Misalnya, tentang sebagian masyakarat yang masih beranggapan bahwa ketika adzan subuh berkumandang maka masih ada kesempatan untuk makan dan minum sebelum adzan itu selesai, tentang pemahaman mereka bahwa tidur itu adalah ibadah sunnah dalam berpuasa, dsb

Mengenal Lebih Dekat Dr. Muhammad Hasan Hitou

Sosok ulama dalam arti yang sesungguhnya, bergelimang dengan karya tulis ilmiyah, muridnya tersebar dimana-mana, menjadi ketua Halal Control di Jerman, menjadi guru besara di Universitas Kuwait dan mendirikan Universitas Al-Imam Asy-syafi'i di Cianjur Jawa Barat.

Syaikh Hasan Hitou adalah seorang faqih madzhab syafi'i yang juga ushuli. Kitab fiqh yang beliau tulis adalah kitab Asy-Syamil lil Furu' wal Masa'il, ensiklopedi dalam madzhab Syafi'i yang rencananya ditulis dalam 160 jilid. Kabar terakhir yang saya terima, baru sampe jilid ke-73, bab Luqathah. Sedangkan dalam Ushul Fiqh, Syaikhna Hasan Hitou menulis kitab Al-Wajiz dan Al-Khulashah.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Kitab Fiqh Shiyam karya Syeikh Hasan Hitou" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Tuntunan Puasa, Tarawih & Shalat Idul Fitri By Prof. Dr. Hamka

Tuntunan Puasa, Tarawih & Shalat Idul Fitri

Ramadhan adalah bulan penuh berkah rahmat dan ampunan Allah SWT. Di dalamnya banyak limpahan karunia dan nikmat yang diberikan-Nya kepada umat islam antara lain puasa, shalat tarawih dan pengujungnya Hari Raya Idul Fitri. Dalam karya bertemakan Ramadhan, Prof. Hamka menuntun umat agar dalam mengerjakan semua amal selama bulan Ramadhan dengan ikhlas, hikmat dan selaras dengan tuntunan syariat baik yang fardhu maupun sunnah.

Bagaimana hikmah dan rahasia yang terkandung dalam ibadah puasa, terutama bagi kehidupan rohani manusia? Dampak puasa terhadap pandangan hidup dan pembentukan pribadi seorang muslim, diulas lengkap dalam buku karangan Prof. DR. HAMKA ini. Karena puasa sesungguhnya adalah latihan mengendalikan nafsu, khususnya nafsu makan dan nafsu seks. Kedua nafsu itu perlu dikendalikan agar tidak menjatuhkan martabat manusia yang telah dipilih menjadi khalifah atau wakil Allah di bumi ini, itulah salah satu hikmah puasa.

Selain memaparkan dampak puasa, tarawih dan idul fitri terhadap tradisi dan budaya bangsa-bangsa yang beragama Islam, buku ini pun membahas masalah jumlah rakaat salat tarawih dan witir sebagai salah satu amalan sunnah yang diutamakan selama bulan Ramadhan. Melalui penjelasan dalil, sunnah Rasulullah dan pokok-pokok pikiran para ulama, Buya Hamka mempersilahkan pembaca menentukan sendiri mana yang lebih afdol.

Dengan demikian akan dapat dirasakan hikmah dan tujuan mulia dari ibadah ramadhan serta dapat berdampak kepada pembentukan pribadi muslim yang kaffah. Selain itu, penulis juga berhasil menangkap dengan baik gambaran kondisi sosial budaya dan karakter masyarakat negeri ini selama pelaksanaan ibadah puasa shalat tarawih hingga hari raya idul fitri. Beliau membahas rinci dari semuanya berdasarkan prespektif manhaj Islam Al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga membuat buku ini semakin berbobot dan berkualitas.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Tuntunan Puasa, Tarawih & Shalat Idul Fitri By Prof. Dr. Hamka" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini