Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali

Rahasia Puasa & Zakat

Terjemah Asroru Shiyam wa Zakat | Imam al-Ghazali


Deskripsi:
 
“Betapa banyak orang-orang berpuasa, namun tak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali dahaga dan lapar.” (Hadis Rasulullah Saw.)

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan bagian zakatnya), beri tahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih. (QS Al-Taubah: 34)

Hadis dan ayat di atas cukup menunjukkan bagi kita betapa pentingnya perintah puasa dan zakat, sekaligus menyiratkan pentingnya memahami keduanya. Tanpa pemahaman yang benar, dikhawatirkan amal ibadah kita menjadi sia-sia.

Banyak buku telah membahas tentang puasa dan zakat, baik dari segi hukum maupun hikmahnya. Buku ini menjadi istimewa karena penulisnya, Al-Ghazali, seorang faqih sekaligus sufi termasyhur, membahasnya dari sudut pandang lahir maupun batin. Tak hanya menguraikan rukun-rukun, sunnah-sunnah, syarat-syarat puasa dan zakat, buku ini membahas pula makna dan nilai batiniah serta niat dan perilaku yang harus menyertai, agar kedua ibadah itu sempurna.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Ensiklopedi Ibnul Qayyim jilid 1-2 Lengkap

Ensiklopedi Ibnul Qayyim Al Jauziyyah

Dengan memohon pertolongan kepada Allah, saya menghimpun kalimat-kalimat emasnya dalam bentuk ensiklopedi yang berkaitan dengan topik-topik itu dari ribuan lembaran dari kitab-kitabnya dan karya karyanya, untuk saya jadikan -dengan petuniuk Allah- lebih mudah bagi para pengkajinya sehingga mudah merujuk kepadanya, dan bisa menambah pengambilan manfaat darinya, terutama karena para praktisi kebaikan dan dakwah Islam secara umum sangat membutuhkannya; mereka mengkajinya di majelis majelis mereka dan pertemuan-pertemuan mereka, lalu mereka membina dan membimbing dengan pedman ifu. maka semakin mantaplah keinginan dan tekad ini menghimpun kalimat kalimat Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dengan seizin Allah.

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Ensiklopedi Ibnul Qayyim jilid 1-2 Lengkap BUKU 1BUKU 2" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemahan Futuhat Al Makkiyah 1-5

Al-Futuhat Al-Makiyyah
Terjemah Al-Futuhat Al-Makkiyyah

Futuhat Al-Makiyyah Ibnu Al-Arobi


Akhirnya, ada juga sosok yg berani menerjemahkan kitab super sulit ini ke dalam bahasa Indonesia. Dan saya kagum dengan hasilnya. Penerjemah kitab penting ini bukan penerjemah umum, tetapi seorang penerjemah yang melakukan ijtihad bahasa dan mujahadat ruhaniyah dalam garis Akbariyah.

Al Futuhat al Makkiyah adalah kitab yang di tulis oleh Ibn Al Arabi pada tahun 599 H di Makkah. Judul lengkapnya yaitu al futuhat al makkiyah fi ma’rifat al asrar al malikiyyah wa al mulkiyyah.

Mayoritasi isi dari kitab ini berkaitan dengan hal-hal yang telah disingkapkan oleh Allah saat sedang melakukan thawaf di rumah-Nya yang dimuliakan (al bayt al mukarram) atau saat dia sedang duduk sambil bermuraqabah di hadapannya.

Kitab ini terdiri dari 560 bab yang terbagi atas enam pasal, yaitu:

Pasal al ma’rifat terdiri dari 73 bab. Pasal ini menjelaskan makrifat sufi yang diawali dengan rahasia ilmu huruf dan diakhiri dengan rahasia syiar-syiar agama.

Pasal al mu’amalat terdiri dari 116 bab. Pasal ini menjelaskan apa yang selayaknya dilakukan oleh pesuluk dengan mengambil pelajaran dari pengalaman sufistik hingga kepribadiannya menyempurna.

Pasal al ahwal terdiri dari 80 bab. Pasal ini menjelaskan keadaan-keadaan dan pancaran yang diraih oleh pesuluk dalam perjalanannya menuju Tuhan.

Pasal al manazil terdiri dari 114 bab. Pasal ini menjelaskan tanda-tanda yang diberikan oleh Kekasih dalam keterasingan pesuluk, kemudian dia berhenti pada tanda itu untuk beristirahat sejenak, kemudian meninggalkannya dalam mikrajnya yang abadi.

Pasal al munazalat terdiri dari 78 bab. Pasal ini menjelaskan tempat pertemuan yang abadi antara hamba dalam pendakiannya dan al-Haq dalam penurunan-Nya.

Pasal al maqamat terdiri dari 99 bab. Pasal ini menjelaskan ufuk tertinggi yang diraih oleh pesuluk sesuai dengan kadarnya dan pancaran pribadinya.

Mukaddimah

Dalam mukaddimah kitab al futuhat al makkiyyah dijelaskan tentang perwujudan segala sesuatu dalam bentuk manifestasi nama-nama-Nya.

Pasal al Ma’rifat

Beberapa diantaranya menjelaskan tentang ilmu huruf yakni yang berkaitan dengan tingkatan-tingkatan ilmu huruf, selain itu juga dijelaskan di dalamnya bahwa seluruh isi alam itu hidup dan beraka budi, dan disana juga dijelaskan tentang sofistik

Pasal Al Muamalat

Beberapa diantaranya menjelaskan tentang ma’rifat kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah, juga menjelaskan tentang perilaku wara’

Pasal al Ahwal

Diantaranya ada yang menjelaskan tentang adab syariat yang berkaitan dengan substansi dan aksiden (Ibnu 'Arabi, n.d. vol. 2 p. 481)

Pasal al Manazil

diantaranya menjelaskan tentang pertanyaan yang harus dijawab dan tidak ditertawakan pada bab 191 yang berkaitan dengan pengetahuan awal zaman (Ibnu 'Arabi, n.d. vol 2. p. 655)

Pasal al Munazalat

Diantaranya menjelaskan tentang siapa yang dihina berarti dia menang (Ibnu 'Arabi, n.d vol. 3. p. 530)

Pasal al Muqamat

diantaranya menjelaskan tentang cara memudahkan yang sulit (Ibnu 'Arabi, n.d. vol. 4. p. 351-352)

Pandangan Ulama Tentang Kitab Al Futuhat Al Makkiyyah

"Ketahuilah, wahai saudaraku, sesungguhnya saya sudah menelaah beberapa kitab para ulama yang tidak dapat saya hitung, namun saya tidak menemukan kitab yang paling mencakup ucapan ahli tarekat melebihi kitab "al Futuhat al Makkiyyah", terlebih lagi apa yang terkandung di dalamnya dari rahasia-rahasia syariat dan penjelasan perdebatan para mujtahid (ahli ijtihad dalam fiqih) dalam menetapkan hukum. Jika seorang mujtahid membaca kitab tersebut, niscaya ilmunya akan bertambah, bahkan dia akan mengetahui rahasia-rahasia dalam berbagai sudut pandang tentang penetapan hukum dan dengan alasan-alasannya yang autentik dari apa yang belum diketahuinya. jiak seorang mufassir (ahli tafsir) al quran, atau pensyarah hadits-hadits nabi, atau mutakallim (ahli kalam), atau muhaddits (ahli hadits), atau ahli bahasa, ahli qori, atau penafsir mimpi, atau ahli fisika dan kedokteran, atau ahli matematika, atau ahli nahwu, atau ahli logika, atau sufi, atau orang alim yang mengetahui alam nama-nama ilahi, atau orang alim yang menguasai ilmu huruf membaca kitab itu, maka mereka akan menemukan hal-hal yang baru," (Sya'rani, Al Kibrit al Ahmar. 1998. p. 8)

Sumber: Seminar Filsafat Islam dan Tasawuf PMIAI UPM-ICAS dan STFI Sadra Jakarta tentang Kitab Al Futuhat Al Makkiyyah karya Ibnu 'Arabi oleh Ikhlas Budiman, M.Si.

Terjemah

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan Futuhat Al Makkiyah 1-5 JILID 1 | JILID 2 | JILID 3 | JILID 4 | JILID 5" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Mendaki Tanjakan Imu dan Tobat karya Imam Al Ghazali

TERJEMAHAN MINHAJUL ABIDIN

Wahai orang yang ingin lepas dari bahaya dan ingin beribadah secara murni, semoga Allah memberimu taufik. Bagaimanapun, kamu harus memiliki ilmu terlebih dahulu, sebab ibadah itu percuma tanpa ilmu. Ilmu adalah poros. Segala sesuatu berputar mengitarinya …

Agar ibadahmu berhasil dan selamat, kamu wajib mengenal dulu siapa yang harus disembah, setelah itu baru menyembah-Nya. Bagaimana jadinya jika kamu menyembah sesuatu yang belum kamu kenal asma dan sifat-sifat dzat-Nya?"

Demikian Hujjatul Islam Al-Ghazali mengawali uraian dalam karya terakhirnya. Lebih jauh beliau juga menerangkan hal-hal berikut:
Dua alasan mengapa ilmu merupakan permata yang lebih mulia dari ibadah.
Tiga ilmu dasar yang wajib diketahui setiap Muslim (fardhu 'ain): Ilmu tauhid (makrifat kepada Allah); ilmu sirr (tasawuf); dan ilmu syariat.
Dua alasan wajibnya tobat dan empat syarat tobat.
Jalan meloloskan diri dari dosa.
Bagaimana jika kamu mau bertobat, tapi khawatir kembali pada dosa?
Bagaimana jika kamu sudah tobat, tapi kembali mengerjakan dosa?



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mendaki Tanjakan Imu dan Tobat karya Imam Al Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Kasyf Ulum al-Akhirah - Berwisata ke Alam Ruh oleh Imam Al-Ghazali

BERWISATA ALAM RUH


Deskripsi:

Percaya kepada yang gaib adalah salah satu rukun Iman bagi pengikut Nabi Muhammad Saw. Namanya saja gaib, sudah pasti tidak kita kenal. Akan tetapi bagi kita yang dianugerahi cahaya keimanan, meskipun mungkin amat kecil, sesuatu yang gaib itu sudah dapat kita rasakan keberadaannya. Misalnya, bermimpi ketika kita sedang tidur.

Kegemaran “menyaksikan” hal-hal yang gaib di masyarakat kita kini lagi ngetren. Baik di televisi, koran, majalah, maupun buku- buku bertema “misteri” atau “horor”  setiap hari kita dapat menyaksikan betapa ia sudah menjadi semacam “menu psikologis sehari- hari” bagi peziarah modernitas seperti kita ini.

Imam al-Ghazali, sejak awal rupanya membaca gelagat zaman. Jauh hari Hujjatul Islam setidaknya melalui buku ini mengajak kita berziarah ke alam gaib, kehidupan di balik kehidupan kita. Mulai dari kehidupan ruh dari rahim, saat ruh keluar dari badan, beragam proses kematian, kehidupan di alam kubur, kedahsyatan akhir zaman, tiupan terompet Isrâfîl, kebangkitan manusia dari kuburnya, pertolongan (syafa‘at), di bawah penantian panjang, penimbangan amal dan pengadilan Tuhan.

Melalui wisata spiritual bimbingan Imam al-Ghazali kita bisa “berkunjung” ke alam barzah, alam malakât, alam jabarût, Padang Mahsyar, tempat-tempat khusus bagi manusia khusus, dan bahkan “berwisata” ke banyak lapis langit, bahkan ke langit paling tinggi, Sidratul Muntahâ.

Tujuan dari wisata ruhani demikian tak lain tak bukan agar keimanan kita bertambah. Dus dapat menghilangkan setidaknya mengurangi sifat angkuh dan sombong  yang bersarang dalam diri kita masing-masing.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Kasyf Ulum al-Akhirah - Berwisata ke Alam Ruh oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Matahari Diwan Syams Tabrizi Karya Jalaluddin Rumi

MATAHARI DIWAN


Deskripsi:

Sosok Syams Tabrizi (Syamsuddin Tabrizi) sangat erat hubungannya dengan Maulana Jalaluddin Rumi. Dialah yang memberikan pengaruh kuat terhadap perubahan Rumi sehingga dikenal sebagai penyair sufi terbesar sepanjang zaman. Sosok itulah yang datang kepada Rumi, mengguncang nalarnya, mencabik hatinya, dan mengubah kehidupannya.

Pertemuan Rumi dengan Syams Tabrizi merupakan sejarah agung dalam dunia sufisme. Rumi, yang sebelumnya merupakan seorang hakim yang telah memahami hal-hal syariat yang zhahir, semenjak pertemuannya dengan Syam Tabrizi, dia berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Dia berhasil menyingkap segala hal yang  zhahir tersebut dan menemukan makna di sebaliknya. Dia berhasil membuka hal-hal yang bathin.

Oleh karenanya, wajar saja bahwa pertemuan antara Rumi dengan Syams Tabrizi disebut sebagai sejarah agung dalam dunia sufisme; di situlah saat-saat Rumi meragukan (skeptis) hal-hal yang terlihat sehingga menemukan hal-hal yang tak terlihat sebagai keyakinan yang mapan. Sementara itu, Syams Tabrizi berada di sisi Rumi yang membimbing dan mengajarkan hakikat.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Matahari Diwan Syams Tabrizi Karya Jalaluddin Rumi" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia oleh Imam Al-Ghazali

MENGOBATI PENYAKIT HATI

Deskripsi:
Banyak masalah pribadi maupun sosial, awalnya berakar dari penyakit hati. Stres, korupsi, perilaku menindas, bahkan juga beberapa penyakit fisik, jika dirunut, sebab utamanya adalah penyakit hati. Sayang, penyakit nonfisik ini jarang disadari oleh sang penderita, terlebih di tengah kesibukan yang tak terhindarkan.

Dalam kitab ini, Al-Ghazali memberi satu "diagnosis" yang jitu terkait sebab penyakit hati. Kata beliau, fungsi utama hati adalah untuk mencintai Allah Swt. Karenanya, "Siapa saja mempunyai sesuatu yang lebih dicintainya daripada Allah, maka hatinya sedang sakit."

Al-Ghazali juga memberi terapi berupa pelatihan jiwa demi perbaikan akhlak, dibarengi pengobatan untuk penyakit-penyakit hati yang lebih halus dan jarang disadari. Secara detail, berikut tahap-tahap topik diagnosis dan terapi penyakit hati dalam kitab ini:

" Tanda-tanda penyakit hati dan kesembuhannya
" Cara mengetahui kekurangan-kekurangan diri
" Latihan kejiwaan untuk mengendalikan nafsu
" Melatih jiwa anak sejak dini demi menumbuhkan akhlak mulia


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun oleh Imam Al-Ghazali

TAFAKUR


Deskripsi:

“Melalui Kitab Tafakur ini, para pembaca akan merasakan bahwa Imam Ghazali sendiri dengan penuh kasih sayang, membimbing, memegang tangan, serta memapah untuk mengunjungi alam mulki dan malakût. Para pembaca akan diajak masuk ke kerajaan lahir dan gaib, ke alam yang penuh keajaiban, lalu membukakan mata dan hati kita bahwa sedemikian dahsyat dan besarnya hikmah tafakur yang mampu menimbulkan kekuatan iman, ketentraman batin, dan kebahagiaan ruhani.”

Dalam buku ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu merupakan penerang kalbu, yang akhirnya membuahkan amal saleh, sedangkan ilmu sendiri bergantung pada tafakur. Maka kesimpulannya, tafakurlah yang menjadi prinsip dan kunci segala kebaikan. Inilah sebenarnya keutamaan tafakur.

Selanjutnya, Al-Ghazali menyajikan uraian tentang Hakikat Tafakur dan Buahnya, Saluran-Saluran Pikiran, serta Cara Tenggelam Menafakuri Diri dan Alam. Yang tak kalah penting, beliau mengisahkan pula perjalanan panjang tafakurnya dalam mengarungi ilmu hingga pencerahan kalbu.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Rahasia Bersuci - Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali


Deskripsi:

“Kesucian itu setengah dari iman”—hadis ini jelas tidak sedang membicarakan kebersihan yang, sekadar membilaskan air pada tubuh namun pada saat bersamaan membiarkan batin dipenuhi hal-hal keji dan kotor.

Lantas bagaimana bersuci yang seharusnya? Berbeda dengan buku fiqih pada umumnya, dalam buku ini Al-Ghazali menekankan dua prinsip “emas” dalam bersuci. Pertama, prinsip kemudahan dalam pelaksanaan tata cara lahiriah bersuci sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Saw. dan para sahabat r.a. Kedua, menghayati keindahan batiniah pada setiap gerak dan tata cara bersuci.

Prinsip kemudahan dan keindahan tersebut senantiasa menjiwai penjelasan Al-Ghazali yang mencakup tiga macam bersuci, yakni: 1) bersuci dari najis; 2) bersuci dari hadas kecil dan besar; dan 3) bersuci dari kotoran badan seperti membersihkan kuku dan rambut.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Bersuci - Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

KH. Masduqi Machfudz: Menyingkap Rahasia Qurban

RAHASIA QURBAN
Peristiwa sejarah yang menandai hari raya 'Iedul Adl-ha adalah tugas berat yang dibebankan Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. agar beliau menyembelih puteranya, Nabi Isma'il as.
Dalam surat اَلصَّفَّاتْ ayat 100 - 106, Allah swt. berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾

"Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku menyembelih engkau. Maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?" Sang anak menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu. Niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, insya Allah". Maka ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah, maka Kami berseru kepadanya: "Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu!" Dan sesungguhnya dengan cara seperti itulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah suatu ujian yang nyata!"

Untuk menangkap hikmah-hikmah dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as. tersebut, kita dapat menelusurinya dari beberapa segi, yaitu:

  1. Pertama: Dari segi jenis perintah
  2. Kedua: Dari segi yang diperintah
  3. Ketiga: Dari segi materi perintah

Jenis perintah

Dapat kita ketahui bahwa perintah yang dibebankan oleh Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. sangat irasional atau sangat tidak masuk akal.

Betapa tidak, orang disuruh menyembelih puteranya sendiri. Kalau kita mencoba menganalisanya secara rasional atau secara akal pikiran, kemungkinan kesimpulan kita akan meleset dari kebenaran. Bahkan kita akan menuduh bahwa ayat tersebut tidak masuk akal, sehingga kebenarannya perlu dipertimbang kan dan ditinjau kembali.

Kesimpulan dari analisa kita tidak akan meleset, jika sebelumnya kita sudah menyetujui dan meyakini bahwa tidak selamanya perintah-perintah Allah itu harus rasional atau dapat masuk akal. Atau dengan lingkup pembahasan yang lebih luas, tidak selamanya aturan-aturan yang terdapat dalam agama Islam itu sesuai dengan akal fikiran. Banyak aturan-aturan ritual atau peribadatan dalam agama Islam yang tidak masuk akal, yang oleh para ulama disebut ta'abbudiy, atau ibadah mahdlah atau ibadah murni, yaitu hal-hal yang mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya (Khaliqnya).

Sedang peraturan-peraturan yang bertalian dengan masalah sosial yang disebut dengan "ibadah ghairu mahdlah" atau ibadah yang tidak murni atau ibadah sosial adalah bersifat rasional atau sesuai dengan akal fikiran. Oleh karena itu akan meleset hasilnya, jika ibadah mahdlah seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma'il di atas dianalisa dengan pendekatan rasional.
Kini timbul pertanyaan, yaitu:

Kalau seluruh firman Allah itu tidak ada yang sunyi dan sepi dari faedah, maka apakah faedahnya Allah memerintahkan makhluk-Nya dengan perintah yang tidak masuk akal dan tidak dapat difahami oleh makhluk itu sendiri?

Di sinilah Allah mengakhiri kisah tersebut dengan berfirman:

إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾

Sesungguhnya hal ini adalah merupakan ujian yang nyata
Yaitu ujian kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as., sampai di mana keduanya mau melaksanakan perintah Allah, meskipun perintah tersebut tidak dapat dipahami maksudnya.

Yang diperintah

Apabila perintah Allah tersebut adalah merupakan batu ujian terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as., maka pertanyaan yang mungkin timbul adalah:
  • Untuk apa Allah masih juga menguji Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as.?
  • Bukankah kedua Nabi tersebut orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sendiri?
  • Apakah keduanya mungkin lulus atau gagal dalam menghadapi ujian tersebut?

Jawabnya ialah bahwa tentu kedua Nabi tersebut pasti lulus dalam menghadapi ujian, karena keduanya adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah!
  • Akan tetapi untuk apa kedua Nabi tersebut masih diuji?
Di sinilah kita dapat menangkap hikmah yang agung dalam peristiwa tersebut. Kalau nabi pilihan Allah itu masih juga mendapat ujian hidup, maka kita sebagai makhluk biasa yang bukan pilihan ini, tentu lebih layak untuk mendapatkan ujian-ujian dari Allah. Allah swt mungkin menguji makhluk-Nya dengan ujian yang pahit atau ujian yang manis, sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al Mulk ayat 2 yang berbunyi:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Allah yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya ...
Dalam menghadapi ujian-ujian ini, kita sendirilah yang akan menjawabnya, apakah akan lulus atau gagal dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah swt. Yang jelas, semakin teguh seseorang mengikuti ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya, semakin banyak kemungkinan ia sukses dalam menghadapi ujian. Dan semakin jauh seseorang dari ajaran-ajaran agama, semakin tipis pula kemungkina untuk dapat sukses dalam menghadapi ujian dari Allah swt.

Perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa manusia itu semakin ta'at kepada perintah Allah swt., akan semakin pedih dan berat ujiannya; dan semakin dekat seseorang kepada Allah swt., akan semakin besar pula ujian yang ditimpakan Allah kepadanya. Pernah Nabi Besar Muhammad saw. ditanya oleh sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash tentang orang yang paling pedih dan berat ujiannya di dunia ini, beliau menjawab:

اَلأَنْبِيَآءُ ثُمَّ الاَمْثَلُ فَالاَمْثَلُ

Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti nabi, lalu orang-orang yang seperti mereka
Oleh karena itu, tidaklah layak bagi seseorang untuk mengharapkan karunia dari Allah swt., sebelum dia tahan dan lulus dari ujian-ujian hidup yang ditimpakan kepadanya.

Ketika ada sekelompok orang yang datang kepada Nabi dan menyatakan sebagai orang-orang mukmin, kemudian datang menimpa mereka ujian dari Allah swt., yaitu mereka dihadang oleh orang-orang kafir yang ingin membunuh mereka, sehingga mereka merasa kesal, sebab mereka sudah merasa sebagai orang-orang yang beriman, mengapa pula masih mendapat ujian hidup. Maka turunlah firman Allah:

الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾ ( العنكبوت : 1-3 )

Alif, Laam, Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: "Kami sudah beriman" tanpa mendapat cobaan? Sesungguhnya Kami telah mencoba (menguji) orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui, mana orang-orang yang benar-benar beriman dan mana orang-orang yang dusta.

Materi perintah

Dalam peristiwa Nabi Ibrahim as. adalah benda yang harus dikorbankan yang berupa putera kesayangan beliau. Banyak ayat Al Qur'an yang menyebutkan kata "anak" bersama dengan kata "harta benda", karena keduanya memang merupakan lambang keduniaan. Dalam surat Al Kahfi ayat 46 Allah swt. ber firman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ﴿٤٦﴾

Harta benda dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia; dan amal-amal yang kekal lagi baik, lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk dicita-citakan.
Disamping itu, harta benda dan anak-anak juga merupakan lambang kesenangan di dunia yang sangat digandrungi oleh setiap orang.

Padahal pada hakekatnya, harta benda dan anak-anak itu adalah alat yang dipergunakan oleh Allah swt. untuk menguji dan mencoba manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 28:

إِعْلَمُوْا اَنَّمَا اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ، وَاَنَّ اللّهَ عِنْدَهُ اَجْرٌ عَظِيْمٌ.

Ketahuilah, bahwa harta benda dan anak-anakmu adalah merupakan ujian bagi kamu. Sedangkan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Karena setiap orang cenderung untuk menuruti apa saja dan siapa saja yang disenangi, maka perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih puteranya adalah memberi peringatan kepada setiap orang, bahwa untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, setiap orang dituntut untuk berani mengorbankan, memenggal dan memotong kesenangan dan kegandrungan hatinya terhadap hal-hal yang merupakan simbol-simbol duniawi. Sebab selagi seseorang manusia masih menggandrungi hal-hal tersebut, maka selama itu pula dia akan diperbudak olehnya. Dan akan lebih parah lagi akibatnya, jika dia berani mencoba melakukan apa saja tanpa mengenal batas-batas dan ketentuan-ketentuan agama, demi menuruti kesenangan dan kegandrungan hatinya. Di sinilah sebenarnya titik awal dan permulaan kebinasaan dan kehancuran manusia, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw.:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

Menggandrungi dunia adalah pangkal segala kejahatan.
Bukankah segala macam bentuk kejahatan di dunia ini, seperti penipuan, korupsi, suap atau rasywah atau kolusi, pencurian, perampokan, pembunuhan, pemberontakan, dan lain sebagainya adalah berpangkal dari keinginan manusia untuk menuruti kesenangan hatinya terhadap hal-hal yang bersifat duniawi? Oleh karena itu kita diperintah untuk berani mematahkan dan mengorbankan sebagian dari kesenagan hati kita, untuk dapat mencapai peringkat manusia yang baik, sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 92

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Kamu sekalian tidak akan pernah mencapai kebaikan, sehingga kamu berani mendermakan sebagian dari harta yang kamu cintai.

Memberikan sesuatu barang yang tidak disukai kepada orang lain, dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi memberikan barang yang sedang dan masih disukai atau disenangi kepada orang lain, hanya dapat dilakukan oleh orang yang baik saja. Oleh karena itu, untuk menguji sampai di mana rasa sayang kita kepada harta benda, dalam kesempatan 'Iedul Adl-ha ini Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصّلاَّنَا

Barangsiapa yang mempunyai kecukupan dan tidak mau menyembelih binatang qurban, maka dia tidak usah shalat 'Ied bersama saya.

Kini tinggal kita sendiri yang mampu memberikan jawaban, apakah kita sudah mampu mengalahkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu kita, ataukah kita masih diperbudak olehnya.

Untuk menuju kesempurnaan hidup, manusia harus mampu memahami keberadaannya di dunia ini, dan sekaligus mengetahui fungsi dan kegunaan segala hal yang bersifat duniawi.

Mengenai keberadaan manusia di dunia, dilukiskan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang berteduh sebentar di bawah pohon yang kemudian pergi lagi; atau seperti orang yang menyeberang jalan. Jadi kehidupan di dunia ini bukanlah suatu tujuan, melainkan sekedar keharusan yang mesti dilalui dan bersifat sangat sementara. Sedang dunia itu sendiri, dilukiskan oleh Rasulullah saw. sebagai air yang menem pel di telunjuk jari yang baru dicelupkan ke dalam lautan. Air yang menempel di telunjuk jari dibanding air lautan, tak ubahnya seperti dunia dibanding akhirat. Namun demikian, tidak sedikit orang yang silau melihat dunia dan memandang sepele kepada akhirat.

Masalahnya, karena manusia lebih cepat terpikat kepada apa saja yang segera dapat dirasakan, yaitu dunia dan isinya. Sedang manusia kurang tertarik kepada kehidupan akhirat, karena tidak segera dapat dinikmati. Padahal kepuasan menikmati kehidupan dunia ini hanyalah bersifat sementara dan semu; sedang kepuasan menikmati kehidupan akhirat nanti adalah abadi dan hakiki. Namun manusia ditakdirkan oleh Allah swt. hanya mampu merasakan hal-hal yang berada di lingkungannya saja tanpa dapat merasakan hal-hal yang jauh dari dirinya.
Dalam surat Al Hadid ayat 20, Allah swt. menggambarkan kehidupan dunia dan akhirat sebagai berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿٢٠﴾

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidup di dunia ini hanyalah permainan, iseng-iseng, perhiasan dan saling merasa hebat di antara kamu, serta persaingan dalam berbanyak harta dan anak. Tak ubahnya seperti air hujan yang menyiram tanaman yang pertumbuhannya dikagumi oleh orang-orang yang menanamnya.Tanaman itu lalu kering, dan kemudian kamu lihat tanaman itu menguning dan hancur. Sedang di akhirat terdapat siksa yang pedih (bagi orang-orang yang kafir) serta ampunan dan keridlaan Allah (bagi orang-orang yang mu'min). Dan kehidupan dunia tidak lebih dari kesenangan yang menipu.

Sebagai orang mu'min yang sudah mempunyai pegangan Al Qur'an, seyogyanya kita tidak tertipu oleh kehidupan di dunia. Bahkan sebaliknya, kehidupan dunia ini harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh agar dapat menjadi faktor penentu dalam memperoleh kehi dupan akhirat yang abadi.
Islam tidak membenci harta benda; tetapi Islam membenci orang yang menjadikan dirinya menjadi budak harta benda.

Islam tidak membenci kekayaan; tetapi Islam mengutuk orang yang memperoleh kekayaan dengan cara yang tidak halal dan menggunakan kekayaan tersebut untuk masalah-masalah yang tidak halal.

Pola hidup zuhud (sederhana) yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. tidaklah identik dengan hidup sengsara, karena permasalahannya menyangkut moralitas dan tanggapan seseorang terhadap dunia ini. Tidak jarang orang miskin yang gandrung dengan kehidupan duniawi, dan tidak sedikit pula orang kaya yang lebih mementingkan kehidupan akhirat. Seseorang manusia baru mencapai kesempurnaan hidup, apabila dia telah mampu memberikan penilaian bahwa kehidupan ukhrawi itu lebih baik dari pada kehidupan duniawi.
Dalam surat Adl Dluha ayat 4 Allah swt. berfirman:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ ﴿٤﴾

Kehidupan ukhrawi itu lebih baik bagimu dari pada kehidupan duniawi

Untuk dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai arti dunia dan arti akhirat, seseorang terlebih dahulu harus memahami arti keberadaannya di dunia ini dan tentang fungsi dari dunia itu sendiri. Pekerjaan ini memang berat, karena merupakan upaya untuk mencari identitas manusia di dunia ini, apalagi jika pekerjaan ini hanya didukung oleh akal fikiran yang sangat terbatas kemampuannya.

Jadi, peristiwa Nabi Ibrahim as. yang kita peringati setiap hari raya adl-ha, adalah mengandung pelajaran yang luhur, yang menuntut setiap orang agar mau melumpuhkan kegandrungannya kepada segala hal yang bersifat duniawi. Dan dengan demikian dia akan menjadi insan kamil (manusia sempurna) karena sudah dapat melepaskan dirinya dari belenggu perbudakan yang dilakukan oleh hawa nafsu. Sedangkan hal ini akan membawa dampak moralitas, dimana manusia tidak lagi rakus dan kejam terhadap sesama manusia dalam mengejar kebahagiaan semu yang sementara; karena dia akan menggunakan segala yang dimilikinya sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang hakiki dan abadi.

Sumber
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/

Keistimewaan Lafdzul Jalalah (Allah)

RAHASIA LAFADZ ALLAH

Lafal Allah adalah lafal yang mengumpulkan semua nama dan sifat yang dikandungnya.
Dzikir ini adalah tujuan utama dan paling puncak.
Saat menjelaskan Lafal Allah, Syaikhuna Maimoen Zubair mengatakan;
Jika huruf per huruf dihilangkan, maka akan semakin mempunyai makna yang lebih dalam.

Jika huruf Alif pada lafadl الله dihilangkan, maka akan dibaca لله ‘lillah’, yang mempunyai makna “Karena Allah”. Hal itu karena amal yang dikerjakan tidak akan sampai dan diterima oleh Allah kecuali amal itu karena Allah.

Jika huruf Lam Pertama pada lafadl لله dihilangkan, maka akan dibaca له Lahuu, yang mempunyai makna “hanya karena Allah”.

Makna ini lebih dalam dari pada makna sebelum ini, karena pada lafadl لله menggunakan isim dhohir (kelihatan), sedangkan pada lafadl له menggunakan bentuk isim dlomir (disimpan).
Hal ini diisyaratkan dalam Al-Qur'an saat menjelaskan tentang shodaqoh, sebagai berikut:

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu, Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Jika huruf Lam pada lafadl له ‘lahuu’ dihilangkan, maka akan dibaca ه “Huu”, yaitu Dlomir Sya'an. Dlomir Sya’an adalah dlomir yang kembali kepada kalimat yang ada di depan dlomir tersebut dan harus berupa jumlah. Bentuk Dlomir Sya'an adalah mufrod, sedangkan kalimah yang dikandung oleh dlomir itu berupa jumlah yang ada di depannya.

Alam ini wujud setelah diadakan oleh Allah, dan semua yang selain Allah pasti berupa jumlah dan tidak esa. Hal ini diisyaratkan berupa jumlah dan harus berada di depan. Sedangkan yang Tunggal (mufrod/fardi) hanya Allah. Hal ini diisyaratkan dengan dlomir yang mufrod. Allah berfirman:

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Demi yang genap dan yang ganjil.
Semua makhluk pasti berpasang-pasang atau genap, dan yang ganjil serta Tunggal hanya Allah.

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
Jika huruf ha' pun dihilangkan, maka akan berdzikir dalam hati, karena huruf ha' berada pada pangkal tenggorokan dekat dada, dan setelah itu masuk dalam hati, sehingga orang yang berdzikir akan luas dada serta mempunyai hati yang terang benderang.

أَلَمْ نَشْرَحْ  لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾ الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤﴾ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب ﴿٨﴾
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨﴾

Sumber
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id