Terjemah al-Mukhlas fii Tazkiyatil Anfus - Intisari Ihya Ulumuddin

Intisari Ihya Ulumuddin

Mensucikan Diri: Konsep Tazkiyatun Nafs Menurut Sa’id Hawwa


Para Rasul diutus oleh Allah dengan tiga tugas utama: memberi peringatan (tadzkir), mengajarkan ilmu (ta’lim), dan menyucikan jiwa (tazkiyah). Tugas penyucian jiwa ini merupakan salah satu inti dari misi para Nabi dan juga menjadi tujuan utama setiap mukmin yang bertakwa. Dalam surah Asy-Syams ayat 9-10, Allah SWT menegaskan bahwa "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Pentingnya Tazkiyatun Nafs


Keselamatan dan keberuntungan seseorang di sisi Allah sangat bergantung pada kebersihan dan kesucian hatinya. Ketika hati bersih, nilai-nilai keimanan seperti sabar, syukur, takut kepada Allah, dan keikhlasan akan tumbuh subur. Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan sifat-sifat tercela seperti dengki, ujub, dan kesombongan. Ketika proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) semakin memudar dari generasi ke generasi, timbul kebutuhan yang mendesak untuk melakukan pembaruan serius dalam spiritualitas umat.

Sa’id Hawwa dalam bukunya mengenai tazkiyatun nafs menyoroti bahwa salah satu penyebab utama kemunduran umat adalah kematian hati. Kematian hati inilah yang menyebabkan umat kehilangan esensi dari iman dan akhlak. Oleh sebab itu, buku ini hadir untuk memberikan konsep integral yang dapat menjadi solusi bagi mereka yang ingin membersihkan jiwa.

Konsep Tazkiyatun Nafs


Buku ini terbagi menjadi empat bab utama yang mengulas secara mendalam tentang proses tazkiyatun nafs:

1. Adab Guru dan Murid

Bab ini mengupas tentang pentingnya adab dalam hubungan antara guru dan murid. Adab yang baik menjadi pondasi dalam proses penyucian jiwa, karena tanpa adab, ilmu yang diterima tidak akan membawa manfaat yang maksimal. Tazkiyatun nafs membutuhkan bimbingan seorang guru yang sudah lebih dahulu menempuh jalan penyucian jiwa.

2. Sarana Tazkiyah

Di bab kedua, Sa’id Hawwa membahas berbagai sarana yang bisa digunakan dalam proses penyucian jiwa. Di antaranya adalah memperbanyak dzikir, shalat malam, serta menjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Sarana-sarana ini menjadi instrumen penting yang membantu seseorang dalam memurnikan hatinya dari penyakit-penyakit batin.

3. Hakikat Tazkiyatun Nafs

Bab ketiga mengkaji lebih mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan tazkiyatun nafs. Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa tazkiyatun nafs bukan sekadar menjauhkan diri dari dosa, melainkan juga membersihkan hati dari segala macam kotoran seperti riya, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. Tujuan akhirnya adalah mencapai maqam ikhlas dan ihsan dalam setiap aspek kehidupan.

3. Buah dari Tazkiyatun Nafs

Bab terakhir membahas hasil dan buah dari proses penyucian jiwa. Setelah seseorang melalui tahapan-tahapan tazkiyatun nafs, ia akan mencapai keadaan hati yang tenang (nafs al-muthma’innah). Hati yang telah tersucikan ini akan selalu merasakan kehadiran Allah, hidup dalam ketenangan, serta selalu rindu untuk bertemu dengan-Nya. Inilah puncak dari perjalanan spiritual seorang hamba.

Kesimpulan


Buku ini memberikan panduan yang lengkap bagi mereka yang ingin menempuh jalan penyucian jiwa, yang merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim. Dengan mengikuti konsep yang dipaparkan oleh Sa’id Hawwa, seorang muslim dapat memperbaiki kualitas spiritualnya dan menjalani kehidupan dengan hati yang bersih dan penuh ketenangan. Tazkiyatun nafs bukanlah proses yang instan, tetapi dengan ketekunan dan bimbingan, buah manisnya akan dirasakan baik di dunia maupun di akhirat.


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah al-Mukhlas fii Tazkiyatil Anfus - Intisari Ihya Ulumuddin" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah al-Mahabbah wa al-Syawq | Imam al-Ghazali

Rindu tanpa Akhir

Terjemah al-Mahabbah wa al-Syawq

Buku Rindu Tanpa Akhir adalah terjemahan Kitab al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha karya Imam al-Ghazâlî adalah sebuah panduan spiritual yang mendalam tentang cinta kepada Allah. Melalui buku ini, Imam al-Ghazâlî—yang dikenal sebagai Hujjat al-Islâm atau "Bukti Islam"—membahas secara rinci hakikat cinta, penyebab munculnya cinta, tanda-tanda cinta, dan bagaimana seseorang dapat mencintai serta dicintai oleh Allah.

Lebih dari sekadar hubungan antara manusia dan Pencipta, buku ini menggambarkan cinta sebagai puncak potensi ruhani manusia, yang dapat membawa seseorang menuju kebahagiaan abadi. Imam al-Ghazâlî menyoroti kenikmatan spiritual yang dapat dirasakan melalui keintiman dengan Allah, dan bagaimana kerinduan kepada-Nya menjadi sumber kebahagiaan sejati.

Dengan gaya bahasa yang indah dan penuh hikmah, buku ini mengajak pembaca untuk merasakan betapa besarnya anugerah Allah dalam hidup ini. Imam al-Ghazâlî juga menjelaskan bahwa cinta yang tulus kepada Allah membuat segala bentuk ibadah menjadi ringan, kepatuhan menjadi kerinduan, dan ketaatan menjadi sesuatu yang didambakan. Buku ini menjadi panduan bagi kaum beriman untuk mengelola cinta secara benar, sehingga dapat mencapai kehidupan yang bermakna dan penuh kedamaian.

Bagi siapa saja yang ingin mendalami makna cinta sejati dan merasakan keagungan cinta Allah, Rindu Tanpa Akhir adalah bacaan yang sangat berharga.


ISI BUKU


  1. Mukadimah
  2. Agama Bersaksi tentang Cinta
  3. Hakikat dan Penyebab Cinta
  4. Allah yang Paling Berhak Dicintai
  5. Kenikmatan Paling Agung Saat Menatap “Wajah” Allah
  6. Menatap Allah Itu Sangat Nikmat
  7. Penguat dan Pengait Cinta
  8. Mengenal Tingkatan Cinta
  9. Keterbatasan Makhluk Mengenal Allah
  10. Makna Kerinduan
  11. Cinta Allah kepada Hamba
  12. Bukti Cinta Hamba kepada Allah
  13. Damai Bersama Allah
  14. Larut dalam Keintiman Spiritual
  15. Makna dan Hakikat Rida
  16. Nilai Istimewa Rida
  17. Doa Tidak Bertentangan dengan Rida
  18. Ketika Rida Bertentangan dengan Keinginan Kita
  19. Kisah Para Pencinta
  20. Lari dari Kemaksiatan
  21. Penutup: Ungkapan Cinta Para Pencinta


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah al-Mahabbah wa al-Syawq | Imam al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berDONASI untuk perkembangan blog ini

Terjemah Rosail Imam al-Ghazali PDF

Imam al-Ghazali

Terjemah Rosail Imam al-Ghazali


Kitab ini adalah terjemahan yang di ambil dari 6 kitab karya imam al-ghazali yaitu ar-Risalah al-Wa'zhiyyah, Bidayah al-Hidayah, al-Adab fi ad-Din, Minhaj al-Arifin, Khulashah at-Tashrif fi at-Tashawwuf, al-Nawa'izh fi al-Ahadits al-Qudsiyyah

Didalam buku Majmū'ah Rasā'il al-Ghazali, Imam al-Ghazali menyajikan enam kajian penting yang mencakup berbagai aspek spiritualitas dan pengembangan diri. Pertama, beliau membahas hikmah di balik penciptaan alam semesta, menjelaskan bagaimana segala sesuatu yang ada ini diciptakan dengan tujuan tertentu yang harus dipahami oleh manusia agar dapat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kedua, beliau menggambarkan "tangga pendakian" menuju Tuhan, sebuah konsep yang mengajarkan langkah-langkah praktis dan spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Tangga ini merupakan metafora yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan spiritual seorang hamba dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah, melewati berbagai tingkatan dan rintangan yang ada.

Ketiga, Imam al-Ghazali memperkenalkan "kompas perjalanan spiritual", sebuah pedoman yang membantu setiap Muslim dalam menavigasi perjalanan hidupnya dengan tujuan akhir meraih ridha Allah SWT. Kompas ini berfungsi sebagai panduan agar seseorang tidak tersesat dalam perjalanan spiritualnya, melainkan tetap berada pada jalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam.

Selanjutnya, beliau juga membahas prinsip dasar tauhid, yang merupakan inti dari ajaran Islam. Tauhid, atau keesaan Allah, adalah landasan utama yang harus dipahami dan dihayati oleh setiap Muslim. Imam al-Ghazali menjelaskan tauhid tidak hanya sebagai konsep teologis, tetapi juga sebagai dasar bagi seluruh kehidupan seorang Muslim, mencakup aspek spiritual dan etika.

Dalam pembahasan kelima, Imam al-Ghazali mengupas inti dari tasawuf, yakni dimensi spiritualitas dalam Islam yang bertujuan untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Tasawuf menurut beliau bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga melibatkan penghayatan mendalam dan penyucian diri dari segala sifat buruk.

Terakhir, Imam al-Ghazali membahas tentang keseimbangan kebenaran, yaitu pentingnya menjaga keseimbangan dalam segala hal, baik dalam beribadah, bersosial, maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keseimbangan ini menurut beliau adalah kunci untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan selaras dengan ajaran Islam.

Dengan membaca Majmū'ah Rasā'il al-Ghazali, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang berbagai aspek spiritual dan agama, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah SWT. Imam al-Ghazali dengan cemerlang menghubungkan semua pembahasan ini dengan tujuan akhir dari kehidupan seorang Muslim, yaitu menjadi kekasih Allah. Karya ini menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin menapaki jalan menuju ridha-Nya. Selamat membaca dan semoga mendapatkan manfaat yang luar biasa dari kitab ini!


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Rosail Imam al-Ghazali PDF" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Mengkaji Ulang Hadis Ihya KH Ma'ruf Khozin

Mengkaji Ulang Hadits Ihya
Mengkaji Hadits Hadits Ihya Ulumuddin


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya


Tulisan ini adalah sebuah ikhtisar atau paling tidak, sebuah pengantar singkat dari buku yang ditulis Ustadz Ma’ruf Khozin berjudul Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis-hadis Palsu Kitab Ihya’. Sebuah buku yang memuat hal ihwal counter ulang terhadap hadis-hadis yang dituduh sebagai hadis palsu dalam kitab Ihya’ dan dirangkum dari kitab-kitab ulama Huffadz di bidang hadis.

Apa yang terjadi di Indonesia, kebencian terhadap kitab Ihya' Ulumuddin dan penulisnya al-Ghazali digaungkan oleh kelompok Salafi Wahabi yang menuduh secara serampangan bahwa kitab tersebut tidak layak diajarkan dan akan menyebabkan kesesatan umat. Perkataan-perkataan keji dilontarkan oleh para ustadz Salafi Wahabi di berbagai forum, mimbar dan media. Seperti disampaikan Abdul Hakim bin Amir Abdat, di mana ia menuduh bahwa sebagian besar hadits ihya' adalah dhaif dan palsu dan tidak paptut dibaca oleh kaum Muslimin karena akan terjadi penyimpangan akidah. Begitupun Abdullah bin Taslim menulis bahwa kitab Ihya berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.

Tuduhan-tuduhan keji dari kelompok Salafi Wahabi di Indonesia patut diberikan jawaban lantang! Kehadiran buku karya Kiai Ma'ruf Khozin ini adalah salah satu ikhtiar yang bagus untuk meluruskan tuduhan-tuduhan keji tersebut. Buku ini akan membuka wawasan para pengkaji Ihya maupun pengkritik serta pembenci-nya bahwa sebetulnya hadits di dalam kitab Ihya yang dituduh para ulama Salafi Wahabi sebagai hadits palsu dan tidak memiliki asal-usul yang jelas, ternyata menurut penilaian ulama hadits lainya dinyatakan kejelasan sanad dan riwayatnya. Kiai Ma'ruf Khozin memaparkan secara lugas dengan menghadirkan hadits-hadits Ihya yang dituduh palsu lalu menjawabnya dengan kutipan serta sanggahan dari para ulama ahli Hadits yang menemukan jalur sanad haditsnya.

Membaca tulisan ini setidaknya memberikan pengantar awal bahwa

"التعقيب على الاحاديث التي يحكم بوضعها في كتاب الإمام الغزالي "احياء علوم الدين

Kajian ulang hadis-hadis yang 'dihukumi palsu' dalam kitab Ihya' Ulumiddin.

احياء علوم الدين مدحه كثير من العلماء لكن طعن فيه اخرون لما فيه من ذكر الاحاديث الموضوعة والاحاديث التي لا أصل لها أي بغير سند عدها الإمام السبكي قريبا من نحو ألف حديث

Kitab Ihya' Ulumiddin, dipuji oleh banyak ulama namun ada lainnya yang menghujat karena ada beberapa 'hadis palsu' dan hadis yang tidak ada sanadnya, menurut Imam As-Subki hampir 1000 hadis.

ثم يأتي بعده في تخريج احاديث الإحياء الحافظ العراقي لكنه ربما اورد تخريج الحافظ ابن الجوزي في كتابه الموضوعات ثلاثين حديثا وهو مشهور بتساهله في حكم الوضع . وقد اورد ابن الجوزي عدة احاديث المسند للامام أحمد والسنن الاربعة في الموضوعات حتى تعقبه امير المؤمنين في الحديث الحافظ ابن حجر في كتابه القول المسدد في الذب عن المسند . وكذلك تعقبه الحافظ جلال الدين السيوطي في كتابه القول الحسن في الذب عن السنن

Kemudian datang Al-Hafidz Al-Iraqi dalam men-takhrij kitab Ihya', cuma kadang beliau menyampaikan kutipan Takhrij Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhuat, sekitar 30 hadis. Dan Ibnu Jauzi mencantumkan hadis-hadis Musnad Ahmad dan 4 Sunan ke dalam hadis palsu, sehingga dikaji ulang oleh Amirul Mukminin di bidang hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Qaul Musaddad. Dilanjutkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam kitabnya Qaul Hasan.

ثم أكمله في كتابه اللألي المصنوعة . وأكد بعده بعض الحفاظ كالحافظ الكناني في تنزيه الشريعة والفتني في تذكرة الموضوعات . من هذه الكتب أخذت ونقلت في تعقيب الاحاديث التي رماه ابن الجوزي بالوضع ، وكذا من كتاب كشف الخفاء للعجلوني والمقاصد الحسنة للحافظ السخاوي ومجمع الزوائد للحافظ الهيثمي

Kemudian, ia sempurnakan dalam La'ali Al-Masnu'ah. Juga diperkuat oleh para Al-Hafidz sesudahnya, seperti Al Kinani dalam Tanzih Asy-Syari'ah dan Al Fatanni dalam Tadzkirah Al-Maudhuat. Dari kitab-kitab inilah saya mengutip dalam mengkaji ulang tuduhan palsu oleh Ibnu Jauzi. Juga dari kitab Kasyf Al-Khafa', Al-Maqashid Al-Hasanah dan Majma' Az-Zawaid.

وقد يوجد في الإحياء احاديث قليلة تعد بالاصابع التي اتفق بعض الحفاظ على وضعه مثل حديث صلاة ليلة الرغائب وحكم بوضعه أيضا مرجح المذهب الشافعي الإمام النووي في المجموع وهو من العلماء الذين مدحوا كتاب الإحياء وقال الإمام النووي كاد الإحياء أن يكون قرآنا أي لكثرة قراءة الناس لهذا الكتاب (كما في تعريف الأحياء بفضائل الإحياء)

Dan kadang ditemukan beberapa hadis palsu yang dapat dihitung dengan jari dan disepakati oleh sebagian ahli hadis sebagai hadis palsu, seperti salat di malam Jumat pertama bulan Rajab. Ulama pentarjih Mazhab Syafi'i, Imam An-Nawawi, yang mengatakan palsu dalam kitab Al-Majmu'. Padahal Imam An-Nawawi tergolong ulama yang memuji Kitab Ihya': "Kitab Ihya' ini hampir saja menjadi Al-Qur'an", yakni karena banyaknya ulama yang membaca Kitab Ihya'.

لكنه لا يجوز لنا الطعن في الإحياء كما قال الشيخ ابو بكر الطرطوشي "لا اعلم كتابا على بسيط الأرض أكثر كذبا من الإحياء" ، فان حكم الوضع في الحديث اجتهادي ربما صححه بعضهم وضعفه ووضعه بعض. وقد وجدت الاحاديث الموضوعة في كتب المتون حتى في كتاب الشيخ ابن تيمية الكلم الطيب .

Namun kita tidak boleh menghujat kitab Ihya' seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Thurthusyi. Kata beliau: "Tidak saya temukan sebuah kitab yang paling banyak dustanya di banding kitab Ihya'". Sebab penilaian palsu bersifat ijtihad. Terkadang satu ulama menilai sahih tapi ulama lain menilai dhaif atau palsu. Hadis-hadis Palsu juga bisa ditemukan di kitab-kitab hadis (Musnad Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi dan lain-lain). Bahkan kitabnya Ibnu Taimiyah, Al-Kalim Ath-Thayyib juga ada hadis palsunya.

ومن أجل نصرة كتاب الإحياء قال بعض أهل الكشف كما حكي عن سيدي الحبيب عبد الله الحداد ان الإمام الغزالي عرض احاديث الإحياء على النبي صلى الله عليه وسلم وقد وقع مثل هذا في صحيح مسلم عن ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻣﺴﻬﺮ، ﻗﺎﻝ: «ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻧﺎ ﻭﺣﻤﺰﺓ اﻟﺰﻳﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﻴﺎﺵ ﻧﺤﻮا ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ»، ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ: ﻓﻠﻘﻴﺖ ﺣﻤﺰﺓ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ «ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ، ﻓﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ، ﻓﻤﺎ ﻋﺮﻑ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺴﻴﺮا ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭ ﺳﺘﺔ» .

Untuk membela kitab Ihya' sebagian ulama ahli kasyaf, seperti Sayid Abdullah Al-Haddad, diceritakan bahwa Imam Al-Ghazali sudah mengajukan hadis-hadis tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.

Kejadian melaporkan hadis kepada Nabi lewat mimpi ada di dalam Sahih Muslim. Ali bin Mushir mengatakan bahwa dia bersama Hamzah Zayyat menerima 1000 hadis dari Aban bin Abi Ayyasy. Hamzah berkata: "Saya melihat Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam mimpi kemudian mengklarifikasi hadis tersebut. Ternyata Nabi tidak mengenali kecuali sedikit, 5 atau 6 hadis".

وحجة الاسلام الغزالي يقول بامكان رؤية النبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة وبعض أدلته اوردته في الفصل قبيل باب تخريج احاديث الإحياء.

Dan Imam Al-Ghazali termasuk ulama yang berpendapat bahwa dimungkinkan berjumpa dengan Nabi dalam keadaan sadar terjaga. Sebagian dalilnya saya uraikan di bab sebelum Bab Takhrij Hadis Kitab Ihya'.

جمعه الفقير الى ربه المهيمن

محمد معروف بن خازن

خويدم مركز اهل السنة والجماعة بجمعية نهضة العلماء جاوى الشرقية ولجنة الافتاء بمجلس العلماء وخريج معهد الفلاح فلاصا كديري الاندونيسي

Penulis: Ustadz Ma’ruf Khozin
Editor: Muhammad Mihrob



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)

Minhajul Abidin

Terjemah Minhajul Abidin Imam Al-Ghazali


Jalan ibadah adalah jalannya para Hamba-Hamba Allah yang telah diberikan karunia dan nikmat abadi walau masih beada di alam Dunia yang fana, Jalan Ibadah adalah jalan yang akan menghantarkan Hamba ke jalan menuju surga yang kekal. Jalan Ibadah amatlah terasa indah, seindah hati para abidin (ahli ibadah) yang dijalankan dengan ikhlas dan ihsan. Inilah jalannya para nabi, para auliya, para shalihin dan mukhlisin.

Tapi, jalan menuju ke surga itu bukanlah jalan yang mudah, bahkan dihiasi oleh sesuatu yang bersebrangan dengan hawa nafsu dan akan susah dilalui oleh hamba-hamba yang mudah tergoda dunia dan lainnya. Berbagai jebakan menghadang, siap menarik seorang hamba ke lubang maksiat, hingga terus menjauh dari tujuan, ibadahnya, Rasulullah saw. bersabda; Ketahuilah, bahwa (jalan menuju) surga itu penuh rintangan dan lika-liku, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan rata.

Melalui kitab yang bernama Minhaajul 'Asbidin ini, karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, ulama besar di bidang ilmu tasawuf dan fiqih, membagi perjalan seorang ahli ibadah itu dalam tujuh tahapan. Ini adalah risalah bimbingan yang menjadi wasiat terakhirnya bagi umat ini, karena tak lama kemudian sang hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ini meninggalkan dunia, menghadap Tuhan yang terus-menerus ia rindukan.

Imam Al-Ghazali memaparkan jalan-jalan penting dalam menjalani Ibadah bagi kita agar selalu waspada terhadap setiap godaan dan jebakan yang ada, dan agar dapat segra keluar bila kita telah masuk ke dalam perangkap itu. Dan manakala seorang hamba mampu.

Terjemahan kitab ini mengajak kita untuk merenungi dan mendalami kesempurnaan dalam beribadah dan mengetahui berbagai tahapan dalam mencapai kesmpurnaan ibadah. Berbagai tahapan yang dimaksud meliputi tujuh hal, yaitu tahapan ilmu dan makrifat, tahapan taubat, mengetahui godaan-godaan ibadah, penghalang-penghalang, pendorong-pendorong, dan perusak-perusak ibadah, serta tahapan pujian dan syukur (al-hamd wa asy-syukr).



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Hitungan Lailatul Qodar Menurut Para Ulama

Kapan Lailatul Qodar

Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau hitunagn untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuaikan dengan kaidah ini.

Kaidah Menandai  Lailatul Qadar di Beberapa Kitab Salafiyah Kuno;
Pertama : Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang:

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،
فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين
 قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  5. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-23

 Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut."

Kedua : Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub a ‘Arabiyyah :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Dari Syaih Abi Hasan Asyadzili

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam ke-19
  5. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam ke-17
  7. Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam ke-23

Ketiga : Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung:

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله
: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر
وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر
. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
 ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر
وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشرفي ليلة الوتر

Ulama telah membuat Nadzhoman mengenai rumusan Lailatul Qodar

  1. Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-29
  5. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam ke-27
  7. Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam ke-20

Wallaahu A’lamu Bishshawaab. Semoga bermanfaat.

Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali

Asroru Shaum

Imam Muhammad al-Ghazali, seorang Ulama yang menguasai berbagai macam bidang disiplin Ilmu, memberikan gagasan tentang rahasia puasa. Sebagai seorang ahli fiqh sekaligus ahli tasawuf, Imam Ghazali tidak melulu memandang puasa sebagai ibadah badaniyah. Oleh karena itu, gagasannya tentang rahasia puasa pun menyadarkan kita akan pentingnya menunaikan ibadah puasa secara lahir batin. Berikut ini enam rahasia puasa menurut Imam al Ghazali :

  1. Menundukkan mata dan mencegahnya dari memperluas pandangan ke semua yang dimakruhkan, dan dari apapun yang melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
  2. Menjaga lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
  3. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dimakruhkan. Karena semua yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara mendengar dan memakan perkara haram,“sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis suht”.
  4. Mencegah bagian tubuh yang lain seperti tangan dan kaki dari tindakan-tindakan dosa, juga mencegah perut dari makan barang syubhat ketika berbuka. Mana mungkin bermakna, orang berpuasa dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung tetapi menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah orang yang berbuka dengan haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
  5. Tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang ketika waktu siang, yaitu makan. Bahkan, justru ketika Ramadhan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadhan malah tersedia saat Ramadhan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
  6. Supaya hati setelah berbuka bergoncang antara khouf (takut) dan roja’ (mengharap). Karena, ia tidak tahu apakah puasanya diterima dan ia menjadi orang yang dekat dengan Allah, ataukah puasanya ditolak dan ia menjadi orang yang dibenci. Dan seperti itulah adanya di seluruh ibadah ketika selesai dilaksanakan.

Rahasia-rahasia yang dipaparkan oleh Imam Ghazali ini bisa kita perhatikan baik-baik, di mana puasa bukan hanya tentang perut. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Puasa tidak hanya dipandang secara syariat antara sah dan batal. Karena yang puasanya sah hingga tebenam matahari belum tentu diterima oleh Allah. Melainkan puasa yang menyeluruh dari raga hingga jiwa. Wallahu a’lam bis shawab.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali

Rahasia Puasa & Zakat

Terjemah Asroru Shiyam wa Zakat | Imam al-Ghazali


Deskripsi:
 
“Betapa banyak orang-orang berpuasa, namun tak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali dahaga dan lapar.” (Hadis Rasulullah Saw.)

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan bagian zakatnya), beri tahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih. (QS Al-Taubah: 34)

Hadis dan ayat di atas cukup menunjukkan bagi kita betapa pentingnya perintah puasa dan zakat, sekaligus menyiratkan pentingnya memahami keduanya. Tanpa pemahaman yang benar, dikhawatirkan amal ibadah kita menjadi sia-sia.

Banyak buku telah membahas tentang puasa dan zakat, baik dari segi hukum maupun hikmahnya. Buku ini menjadi istimewa karena penulisnya, Al-Ghazali, seorang faqih sekaligus sufi termasyhur, membahasnya dari sudut pandang lahir maupun batin. Tak hanya menguraikan rukun-rukun, sunnah-sunnah, syarat-syarat puasa dan zakat, buku ini membahas pula makna dan nilai batiniah serta niat dan perilaku yang harus menyertai, agar kedua ibadah itu sempurna.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat Bidang Sains Modern

ILMUAN-ILMUAN MUSLIM

Deskripsi:

Buku ini menggambarkan zaman ketika agama dan sains memiliki hu- bungan yang sangat akrab. Mungkin ganjil, namun kebutuhan agamalah yang telah membantu perkembangan pengetahuan yang baru. Sebuah contoh bisa dilihat dari upaya mengembangkan standar kualitas dalam ilmu agama. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632, mereka yang mendalami agama ingin menemukan cara untuk memeriksa dan mem- verifikasi sejumlah ucapan sang Nabi. Hal ini menuntun mereka kepada sistem peninjauan sejawat bersama, yang di kemudian hari harus dilatih sendiri oleh para ilmuwan agama. Satu abad kemudian, saat berbagai bi- dang sains mulai berkembang, para pemuka agamalah yang mendorong para ilmuwan pertama untuk menggunakan standar yang sama untuk mem- buktikan keabsahan hasil karya ilmiahnya.

Pada zaman keemasannya, para ilmuwan dan insinyur dari dunia Islam telah membuat berbagai penemuan dan ciptaan hebat yang baru, dan kita bisa melihat jejak kontribusi mereka dalam kehidupan sehari-hari zaman sekarang. Selain itu, banyak pemimpin negara Islam yang melihat hubungan antara sains dan masyarakat sebagaimana para politisi zaman modern. Mereka meyakini bahwa kekuatan pikiran bisa membawa kita ke berbagai tempat yang belum pernah disentuh oleh manusia di masa lalu; mereka ingin pengetahuan yang paling baru agar bisa membantu mereka memerintah daerah kekuasaannya dan mengalahkan para musuhnya; dan mereka ingin membentuk masyarakat di mana orang-orang membuat berbagai keputusan berdasarkan bukti sehingga sains, teknologi dan pemikiran rasional sangatlah penting.

Dalam buku ini Anda akan bertemu banyak pemikir hebat seperti Ibnu Sina, ilmuwan berbahasa Farsi dari abad ke-10 yang juga memberikan kontribusi penting atas penelitian alam dan filsafat agama. Dia juga sem- pat menciptakan bentuk awal dari mikrometer, dan bukunya The Canon of Medicine/Qanun fi’ al-Thibb (Kanun Kedokteran)  diajarkan kepada para calon dokter di berbagai universitas di Prancis dan Italia dari abad ke-12 sampai ke-16. Lalu ada juga Hassan ibnu al-Haitsam, ahli fisika eksperimental abad ke-11 yang memperbarui pemahaman kita mengenai indra penglihatan dan diakui menjadi pelopor penciptaan alat penangkap gambar (camera obscura) selain menulis dan meneliti pergerakan planet.

Anda juga akan bertemu pelindung para ilmuwan ini. Khalifah dan gubernur seperti Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah Sunni dan al-Ha- kim dari dinasti Fatimiyah Syiah yang memerintah Kairo mulai tahun 996 sampai 1021. Mereka dan masih banyak lagi penguasa yang mem- pekerjakan para penasihat sains pribadi, membangun perpustakaan dan observatorium, dan bahkan secara langsung mengambil bagian dalam ber- bagai percobaan sains.

Dan Anda akan bertemu dengan beberapa kritikus sains baru. Mereka adalah orang-orang seperti ahli agama Abu Hamid al-Ghazali, yang me- nulis polemik yang sangat terkenal, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), menentang klaim para ilmuwan yang mampu menjelaskan semua hal di dunia ini. Dan Anda akan bertemu dengan para cendekiawan yang menderita dengan hebatnya karena telah mengkritik sains dan rasional- isme, orang-orang seperti Ahmad bin Hambal (juga dikenal sebagai Imam Ahmad atau Imam Hambali—penerj.), yang disiksa karena menolak me- nerima bahwa sains harus menjadi agama resmi negara Islam.

Mendaki Tanjakan Imu dan Tobat karya Imam Al Ghazali

TERJEMAHAN MINHAJUL ABIDIN

Wahai orang yang ingin lepas dari bahaya dan ingin beribadah secara murni, semoga Allah memberimu taufik. Bagaimanapun, kamu harus memiliki ilmu terlebih dahulu, sebab ibadah itu percuma tanpa ilmu. Ilmu adalah poros. Segala sesuatu berputar mengitarinya …

Agar ibadahmu berhasil dan selamat, kamu wajib mengenal dulu siapa yang harus disembah, setelah itu baru menyembah-Nya. Bagaimana jadinya jika kamu menyembah sesuatu yang belum kamu kenal asma dan sifat-sifat dzat-Nya?"

Demikian Hujjatul Islam Al-Ghazali mengawali uraian dalam karya terakhirnya. Lebih jauh beliau juga menerangkan hal-hal berikut:
Dua alasan mengapa ilmu merupakan permata yang lebih mulia dari ibadah.
Tiga ilmu dasar yang wajib diketahui setiap Muslim (fardhu 'ain): Ilmu tauhid (makrifat kepada Allah); ilmu sirr (tasawuf); dan ilmu syariat.
Dua alasan wajibnya tobat dan empat syarat tobat.
Jalan meloloskan diri dari dosa.
Bagaimana jika kamu mau bertobat, tapi khawatir kembali pada dosa?
Bagaimana jika kamu sudah tobat, tapi kembali mengerjakan dosa?



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mendaki Tanjakan Imu dan Tobat karya Imam Al Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Kasyf Ulum al-Akhirah - Berwisata ke Alam Ruh oleh Imam Al-Ghazali

BERWISATA ALAM RUH


Deskripsi:

Percaya kepada yang gaib adalah salah satu rukun Iman bagi pengikut Nabi Muhammad Saw. Namanya saja gaib, sudah pasti tidak kita kenal. Akan tetapi bagi kita yang dianugerahi cahaya keimanan, meskipun mungkin amat kecil, sesuatu yang gaib itu sudah dapat kita rasakan keberadaannya. Misalnya, bermimpi ketika kita sedang tidur.

Kegemaran “menyaksikan” hal-hal yang gaib di masyarakat kita kini lagi ngetren. Baik di televisi, koran, majalah, maupun buku- buku bertema “misteri” atau “horor”  setiap hari kita dapat menyaksikan betapa ia sudah menjadi semacam “menu psikologis sehari- hari” bagi peziarah modernitas seperti kita ini.

Imam al-Ghazali, sejak awal rupanya membaca gelagat zaman. Jauh hari Hujjatul Islam setidaknya melalui buku ini mengajak kita berziarah ke alam gaib, kehidupan di balik kehidupan kita. Mulai dari kehidupan ruh dari rahim, saat ruh keluar dari badan, beragam proses kematian, kehidupan di alam kubur, kedahsyatan akhir zaman, tiupan terompet Isrâfîl, kebangkitan manusia dari kuburnya, pertolongan (syafa‘at), di bawah penantian panjang, penimbangan amal dan pengadilan Tuhan.

Melalui wisata spiritual bimbingan Imam al-Ghazali kita bisa “berkunjung” ke alam barzah, alam malakât, alam jabarût, Padang Mahsyar, tempat-tempat khusus bagi manusia khusus, dan bahkan “berwisata” ke banyak lapis langit, bahkan ke langit paling tinggi, Sidratul Muntahâ.

Tujuan dari wisata ruhani demikian tak lain tak bukan agar keimanan kita bertambah. Dus dapat menghilangkan setidaknya mengurangi sifat angkuh dan sombong  yang bersarang dalam diri kita masing-masing.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Kasyf Ulum al-Akhirah - Berwisata ke Alam Ruh oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia oleh Imam Al-Ghazali

MENGOBATI PENYAKIT HATI

Deskripsi:
Banyak masalah pribadi maupun sosial, awalnya berakar dari penyakit hati. Stres, korupsi, perilaku menindas, bahkan juga beberapa penyakit fisik, jika dirunut, sebab utamanya adalah penyakit hati. Sayang, penyakit nonfisik ini jarang disadari oleh sang penderita, terlebih di tengah kesibukan yang tak terhindarkan.

Dalam kitab ini, Al-Ghazali memberi satu "diagnosis" yang jitu terkait sebab penyakit hati. Kata beliau, fungsi utama hati adalah untuk mencintai Allah Swt. Karenanya, "Siapa saja mempunyai sesuatu yang lebih dicintainya daripada Allah, maka hatinya sedang sakit."

Al-Ghazali juga memberi terapi berupa pelatihan jiwa demi perbaikan akhlak, dibarengi pengobatan untuk penyakit-penyakit hati yang lebih halus dan jarang disadari. Secara detail, berikut tahap-tahap topik diagnosis dan terapi penyakit hati dalam kitab ini:

" Tanda-tanda penyakit hati dan kesembuhannya
" Cara mengetahui kekurangan-kekurangan diri
" Latihan kejiwaan untuk mengendalikan nafsu
" Melatih jiwa anak sejak dini demi menumbuhkan akhlak mulia


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun oleh Imam Al-Ghazali

TAFAKUR


Deskripsi:

“Melalui Kitab Tafakur ini, para pembaca akan merasakan bahwa Imam Ghazali sendiri dengan penuh kasih sayang, membimbing, memegang tangan, serta memapah untuk mengunjungi alam mulki dan malakût. Para pembaca akan diajak masuk ke kerajaan lahir dan gaib, ke alam yang penuh keajaiban, lalu membukakan mata dan hati kita bahwa sedemikian dahsyat dan besarnya hikmah tafakur yang mampu menimbulkan kekuatan iman, ketentraman batin, dan kebahagiaan ruhani.”

Dalam buku ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu merupakan penerang kalbu, yang akhirnya membuahkan amal saleh, sedangkan ilmu sendiri bergantung pada tafakur. Maka kesimpulannya, tafakurlah yang menjadi prinsip dan kunci segala kebaikan. Inilah sebenarnya keutamaan tafakur.

Selanjutnya, Al-Ghazali menyajikan uraian tentang Hakikat Tafakur dan Buahnya, Saluran-Saluran Pikiran, serta Cara Tenggelam Menafakuri Diri dan Alam. Yang tak kalah penting, beliau mengisahkan pula perjalanan panjang tafakurnya dalam mengarungi ilmu hingga pencerahan kalbu.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Rahasia Bersuci - Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali


Deskripsi:

“Kesucian itu setengah dari iman”—hadis ini jelas tidak sedang membicarakan kebersihan yang, sekadar membilaskan air pada tubuh namun pada saat bersamaan membiarkan batin dipenuhi hal-hal keji dan kotor.

Lantas bagaimana bersuci yang seharusnya? Berbeda dengan buku fiqih pada umumnya, dalam buku ini Al-Ghazali menekankan dua prinsip “emas” dalam bersuci. Pertama, prinsip kemudahan dalam pelaksanaan tata cara lahiriah bersuci sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Saw. dan para sahabat r.a. Kedua, menghayati keindahan batiniah pada setiap gerak dan tata cara bersuci.

Prinsip kemudahan dan keindahan tersebut senantiasa menjiwai penjelasan Al-Ghazali yang mencakup tiga macam bersuci, yakni: 1) bersuci dari najis; 2) bersuci dari hadas kecil dan besar; dan 3) bersuci dari kotoran badan seperti membersihkan kuku dan rambut.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Bersuci - Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemahan Tahafut Al-Falasifah

TAHAFUT FALASAFAH

Kitab Tahafut Al-Falasifah ini diterjemahkan secara khusus sebagai upaya memberikan pemahaman filsafat karya besar Imam Al-Ghazali kepada pembaca di Indonesia. Bahasannya populer, isinya berbobot.

Karya Al-Ghazali ini menciptakan kontradiksi dalam pemikiran para filsuf tentang Tuhan dan alam termasyhur Al-Ghazali melalui karyanya Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) mengkritik pemikiran filsuf Islam Ibnu kontroversial ini dibuat pada abad ke-11. Filsuf Muslim seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Al-Farabi (Alpharabius) di cela dalam buku ini. Karya itu berhasil mendongkrak pemikiran filosofi dan teologi Al-Ghazali yang beraliran Asyariyah.

Setelah melihat nadi kebodohan berdenyut dalam diri orang-orang bodoh itu. saya merasa penting untuk menulis buku ini sebagai sanggahan atas para filosof terdahulu serta eksplorasi atas kerancuan dalam keyakinan berikut inkonsistensi berbagai teori mereka dalam persoalan yang terkait dengan metafisika. Buku ini juga akan menyingkap relung-relung terdalam dari elemen pemikiran mereka yang dapat mewujudkan suka cita kaum intelektual dan memberikan pelajaran pada para cendikiawan. yang saya maksud disini adalah persoalan-persoalan akidah dan pendapat-pendapat yang menjadi medan perdebatan dengan kelompok mayoritas umat islam. - Imam al-Ghazali

KERANCUAN FILSAFAT
TAHAFUT AL FALASAFAH
KERANCUAN FILSAFAT
IMAM AL GHAZALI

Terjemahan Minhajul Abidin - Imam Al-Ghazali

TERJEMAH MINHAJUL ABIDIN

Minhajul Abidin (secara harfiah berarti Pedoman Dasar bagi para Ahli Ibadah) adalah kitab tasawuf karangan Imam Al-Ghazali. Kitab ini ditulis menjelang wafatnya Imam Al-Ghazali. Dengan kata lain, ditulis setelah Kitab Ihya Ulumuddin.

Dalam kitab ini Imam Al-Ghazali menggunakan istilah 'aqobah yang artinya jalan mendaki yang sukar ditempuh. Menurut Imam Al-Ghazali ada tujuh 'aqobah yang dapat menghambat kualitas ibadah serta faktor-faktor yang menghambat komunikasi personal seorang hamba dengan Tuhan. Dalam teks indonesia 'abobah diterjemahkan sebagai tanjakan. Namun, ada juga yang menafsirkan kata 'aqobah dalam kitab ini sebagai metode atau juga rintangan. Tujuh tanjakan tersebut harus ditempuh oleh setiap hamba untuk meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah.

Dengan demikian, tema pokok dalam kitab Minhajul Abidin ini lebih fokus dan lebih bersifat praktis jika dibandingkan dengan kitab Ihya Ulumuddin. (Scure: id.wikipedia.org)

ISI BUKU
Terjemahan Minhajul Abidin PDF
منهاج العابدين إلى جنة رب العالمين

تأليف
الإمام المجدد، حجَّة الإسلام زين الدين أبي حامد محمَّد بن محمَّد بن محمَّد الغزالي الشافعي( 450-505هـ 

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "TERJEMAHANYA Minhajul Abidin" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemahan Ayyuhal Walad - Imam Ghazali

TERJEMAH AYYUHAL WALAD
Kitab Ayyuhal Walad adalah salah satu kitab monumental yang dikarang oleh Imam al-Ghazali. Kitab tersebut mengandung nasehat-nasehat yang ditulis Imam al-Ghazali untuk para santrinya.

Awal mulanya Imam al-Ghazali menulis kitab Ayyuhal Walad adalah karena salah seorang santrinya meminta dituliskan nasehat dan petuah yang kelak dapat bermanfaat baginya dan menjadi pedomannya sepanjang hayat.



Terjemah Ayyuhal Walad - Imam Ghazali

اَيُّهَا الْوَلَدُ فِى نَصِيْحَةِ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَمَوْعِظَتِهِمْ لِيَعْلَمُوْا وَيُمَيِّزُوْا عِلْمًا نَافِعًا مِنْ غَيْرِهِ

تأليف
الإمام أبي حامد محمد بن محمد الغزالي

Kitab Al Kifayah Syarah Bidayatul Hidayah

al-kifayah

Kitab al-Kifayah ini adalah kifab yang mensyarahi kitab karya Imam al-Ghazali yang bernama Bidayatul Hidayah yang berisikan adab-adab seorang hamba dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

الكفاية شرح بداية الهداية لحجة الإسلام أبي حامد الغزالي
تأليف الإمام العلامة/ عبدالقادر بن أحمد الفاكهي
عناية وتعليق الشيخ الدكتور/ محمد ياسر محمد القُضماني